Menunggu titik terang kematian gajah di Riau

3 hours ago 3
Kami akan bekerja keras untuk mengungkap kasus ini dan menangkap pelaku. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa terdapat beberapa orang yang dicurigai terlibat dalam kasus gajah mati.

Pekanbaru, (ANTARA) - Kematian gajah seakan telah menjadi siklus di Provinsi Riau. Pada 2023 ada empat ekor gajah yang mati, 2024 tercatat ada dua ekor, dan tahun lalu sebanyak tiga ekor. Seperti tiada tahun tanpa kematian gajah di Bumi Lancang Kuning.

Memasuki 2026 siklus itu juga sudah mulai datang. Baru awal tahun seekor gajah liar sudah ditemukan mati pada Senin, 2 Februari 2026. Kematiannya diperkirakan 10 hari sebelum ditemukan. Dengan demikian terjadi pada Januari, sehingga siklus itu sudah datang di awal tahun.

Namun begitu, peristiwa itu baru diketahui publik pada Kamis, 5 Februari 2026. Saat itu Kepolisian Resor Pelalawan merilis penyelidikan kematian gajah tersebut. Disampaikan bahwa seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis) ditemukan mati di areal konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper, Distrik Ukui, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.

Saksi bernama Winarno yang menemukan bangkai gajah pada 2 Februari 2026 seusai mencium bau busuk dari dalam hutan. Sebelum menemukan satwa tersebut, ia langsung melaporkannya kepada pihak keamanan. Keesokan harinya Polres Pelalawan turun bersama tim gabungan melakukan nekropsi (prosedur bedah bangkai hewan).

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Pelalawan, AKP I Gede Yoga Eka Pranata, mengatakan pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan pemeriksaan saksi-saksi. Itu dilakukan bersama Direktorat Reserse Kriminal Khusus dan Bidang Laboratorium Forensik Kepolisian Daerah Riau, Polisi Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta pihak perusahaan.

Tim Bidlabfor Polda Riau mengambil sampel tanah di sekitar lokasi untuk diuji di laboratorium guna mendukung proses penyelidikan. Pihak perusahaan menyatakan siap bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk mengungkap penyebab kematian satwa dilindungi tersebut.

Dalam olah TKP diketahui gajah ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan. Gajah tersebut ditemukan dalam posisi duduk dengan kepala terpotong.

BB KSDA Riau pada Kamis malam (5/2) masih belum memberikan tanggapan. Keesokan harinya, Jumat, 6 Februari, Kepolisian Daerah Riau dan BB KSDA Riau melakukan konferensi pers bersama mengenai kematian gajah liar tersebut.

Dokter hewan BBKSDA Riau, drh Rini Deswita, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan, gajah tersebut ditembak pada bagian dahi. Proyektil peluru ditemukan masih bersarang di tengkorak dan posisi tengkorak masih menyatu dengan leher.

"Gajah ditembak di bagian dahi. Proyektil masih berada di tengkorak, dan tengkorak masih menyatu dengan leher," ujar Rini, Jumat (6/2).

Bagian depan kepala, termasuk dahi, mata, hidung, dan gading hilang karena dipotong menggunakan senjata tajam. Belalai juga ditemukan dalam kondisi terpisah. Pelaku diduga memotong setengah bagian kepala untuk mengambil gading yang panjangnya lebih dari satu meter.

"Jadi sebenarnya bukan kepala yang hilang, tetapi dipotong setengah bagian menggunakan senjata tajam untuk mengambil gading," jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan terhadap gajah tersebut, hewan itu memiliki panjang badan sekitar 286 sentimeter dan diperkirakan berumur lebih dari 40 tahun. Satwa itu diketahui merupakan bagian dari kantong gajah Tesso Tenggara.

"Gajah tersebut telah mati lebih dari 10 hari sebelum ditemukan. Setelah dilakukan pemeriksaan dan pengumpulan data, bangkai gajah kemudian dikuburkan di lokasi," jelasnya.

Baca juga: Gakkum Kemenhut kejar jaringan pemburu terkait kematian gajah di Riau

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |