Banda Aceh (ANTARA) - Menteri Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia Dody Hanggodo menegaskan perbaikan jalan dan jembatan rusak akibat banjir dan longsor di Aceh menjadi prioritas pemerintah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Untuk Aceh, sesuai arahan Presiden Prabowo, pembangunan kembali jalan dan jembatan diprioritaskan agar kondisinya lebih baik,” kata Dody saat meninjau infrastruktur di Bener Meriah, Aceh, Senin.
Pernyataan itu disampaikan Dody menanggapi penjelasan Tagore Abubakar mengenai dampak ekonomi akibat kerusakan jalan dan jembatan pascabencana, di sela peninjauan fasilitas air bersih SPAM Lampahan, Bener Meriah.
Dody mengatakan pemerintah pusat akan membantu perbaikan seluruh infrastruktur yang rusak, tidak hanya jalan nasional, tetapi juga jalan provinsi dan kabupaten yang terdampak bencana.
“Pemerintah akan membantu perbaikan sekitar 154 jembatan serta sejumlah ruas jalan provinsi dan kabupaten yang saat ini kondisinya masih rusak,” ujar Dody.
Ia menambahkan jalan dan jembatan tersebut merupakan akses vital yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat, sehingga percepatan pemulihan infrastruktur menjadi prioritas pemerintah.
Menurut Dody, Kementerian PU dapat berkontribusi dalam pembangunan jalan provinsi dan kabupaten, terutama setelah terbitnya Instruksi Presiden Nomor 11 Tahun 2025.
Instruksi presiden itu bertujuan mempercepat peningkatan konektivitas jalan daerah guna mendukung program swasembada pangan dan energi.
“Dengan adanya Inpres tersebut, dukungan pemerintah pusat terhadap pembangunan jalan daerah memiliki dasar hukum yang jelas,” kata Dody.
Berdasarkan data pemerintah daerah, kerusakan jembatan di Bener Meriah akibat banjir dan longsor mencapai 154 titik yang tersebar pada jaringan jalan nasional, provinsi, dan kabupaten.
Sementara itu, jumlah ruas jalan yang mengalami kerusakan tercatat mencapai 184 ruas, sebagian di antaranya merupakan jalan nasional yang saat ini telah mulai diperbaiki.
Kesejahteraan masyarakat
Bupati Tagore sebelumnya menyampaikan kesejahteraan masyarakat di wilayahnya sangat bergantung pada kelancaran akses jalan dan jembatan.
Menurutnya, infrastruktur tersebut menjadi jalur utama distribusi hasil pertanian masyarakat, terutama komoditas kopi arabika yang menjadi unggulan daerah dataran tinggi Gayo.
Tagore memperkirakan kerusakan jalan dapat menyebabkan potensi kehilangan pendapatan hingga Rp500 miliar per tahun dari perdagangan kopi arabika.
Ia menjelaskan harga kopi ceri dapat mencapai Rp25.000 per kilogram saat akses jalan baik, namun dapat turun menjadi sekitar Rp22.000 per kilogram ketika kondisi jalan rusak.
Selisih sekitar Rp3.000 per kilogram itu, menurut Tagore, berdampak besar terhadap nilai ekonomi produksi kopi masyarakat.
Selain itu, hanya sekitar 17 persen dari kopi ceri yang diolah menjadi green bean atau biji kopi mentah siap ekspor.
Kopi arabika dari dataran tinggi Gayo, termasuk Bener Meriah, sebagian besar dipasarkan ke luar negeri.
Sekitar 70 persen produksi kopi arabika dari wilayah tersebut diekspor sehingga turut menyumbang devisa negara dari sektor perkebunan.
Tagore menambahkan kondisi jalan nasional di Bener Meriah kini mulai membaik setelah dilakukan sejumlah perbaikan.
Namun, ia menilai perhatian pemerintah masih diperlukan untuk mempercepat perbaikan jalan provinsi dan kabupaten.
“Jika akses jalan semakin baik, aktivitas ekonomi masyarakat akan meningkat dan kesejahteraan petani kopi dapat terjaga,” kata Tagore.
Baca juga: Pemerintah percepat revitalisasi jembatan lintas Blangkejeren-Kutacane
Baca juga: Enam ruas jalan nasional di Aceh masih terputus pascabanjir bandang
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































