Washington (ANTARA) - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat Marco Rubio mendesak Iran berkomitmen mengakhiri ambisi nuklirnya di tengah negosiasi yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran.
"Saya pikir mereka harus mengambil langkah-langkah nyata guna mengakhiri ambisi apa pun untuk memiliki senjata nuklir," kata Menlu Rubio kepada Al Jazeera, Senin (30/3), menjawab pertanyaan terkait konsesi minimum Teheran untuk mengakhiri konflik itu.
Jika Republik Islam Iran ingin memproduksi energi nuklir, maka mereka harus mematuhi mekanisme yang "sudah mapan" seperti yang dilakukan beberapa negara mengimpor bahan bakar nuklir.
"Mereka tidak boleh memiliki sistem yang memungkinkan mengubah nuklir menjadi senjata," tambahnya.
Pada hari itu juga, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran mengkonfirmasi bahwa parlemen negara itu sedang mempertimbangkan penarikan Iran dari Perjanjian Non-Proliferasi (NPT). Iran menegaskan kembali bahwa tidak ada upaya untuk membuat senjata nuklir.
Baca juga: Iran pertimbangkan keluar dari perjanjian Non-Proliferasi Nuklir
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengklaim Washington dan Teheran telah melakukan pembicaraan yang "sangat positif dan produktif" selama akhir pekan, sehingga menunda serangan Amerika terhadap infrastruktur energi Iran.
Namun, Iran menyangkal adanya pembicaraan langsung itu dengan mengatakan bahwa mereka hanya menerima pesan yang menyatakan keinginan Amerika untuk terlibat dalam dialog.
Sebelumnya, Utusan Khusus AS Steve Witkoff mengatakan 15 poin rencana perdamaian telah diteruskan Amerika ke Iran melalui Pakistan. Witkoff mengeklaim rencana itu telah mendapat "reaksi positif", sedangkan Kemlu Iran menyebut rencana Amerika itu tidak realistis.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Rubio: AS akan tinjau ulang penolakan NATO bantu lawan Iran
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































