Menjaga warisan bespoke tailoring di tengah arus " fast fashion "

1 week ago 7
Padahal ada sebuah art di balik bespoke tailoring itu. Tugas tailor itu apa? Memperbaiki. Jadi kalau orang gemuk harus terlihat lebih ramping dan yang kurus harus terlihat lebih berisi. Itulah esensi sebuah tailor, yang hampir hilang dan sempat direm

Jakarta (ANTARA) - Di tengah perkembangan industri fesyen yang semakin didominasi oleh konsep pakaian massal (fast fashion) dan pakaian siap pakai (ready-to-wear), keberadaan bespoke tailoring atau layanan pembuatan pakaian —terutama suit— dengan tingkat kustomisasi tertinggi ternyata tidak benar-benar ditinggalkan.

Di saat pakaian diproduksi secara massal dengan mengutamakan kecepatan dan efisiensi, bespoke tailoring tetap mempertahankan nilai yang tidak dapat digantikan oleh tren sesaat.

Bespoke menawarkan pengalaman yang berbeda. Setiap pakaian dibuat dari nol (0) sesuai dengan bentuk tubuh, aktivitas, hingga karakter pemakainya. Karena itu, tailoring bukan sekadar proses menjahit pakaian, melainkan seni memahami manusia yang diterjemahkan ke dalam detail-detail khusus. Nilai personal, ketelitian, dan warisan craftmanship inilah yang membuat bespoke tailoring memiliki tempat tersendiri di tengah industri fesyen modern.

Tidak banyak rumah tailoring yang mampu menjaga nilai tersebut secara konsisten lintas generasi, terutama di tengah perubahan tren dan perilaku konsumen yang terus berkembang.

Di Indonesia, salah satu yang tetap menjaga nilai tersebut adalah Wong Hang. Berdiri lebih dari sembilan dekade, Wong Hang menjadi contoh bagaimana sebuah bisnis tradisional dapat tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Menurut Samuel Wongso, generasi keempat penerus bisnis legendaris Wong Hang, esensi tailoring terletak pada kemampuan menciptakan keseimbangan antara estetika, kenyamanan, dan karakter seseorang.

Bagi Samuel, pakaian yang baik bukan hanya soal potongan atau bahan, tetapi juga bagaimana busana mampu menyesuaikan diri dengan bentuk tubuh dan kepribadian pemakainya. Menurutnya, tugas tailor adalah memahami bagaimana pakaian bisa membuat seseorang terlihat lebih proporsional, nyaman, dan percaya diri.

“Padahal ada sebuah art di balik bespoke tailoring itu. Tugas tailor itu apa? Memperbaiki. Jadi kalau orang gemuk harus terlihat lebih ramping dan yang kurus harus terlihat lebih berisi. Itulah esensi sebuah tailor, yang hampir hilang dan sempat diremehkan,” kata Samuel yang bergabung di Wong Hong sejak 2011 itu.

Pandangan tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan lahir dari pengalaman panjang tailoring yang diwariskan turun-temurun di keluarga Wong Hang.

Selama puluhan tahun, rumah tailoring ini mempertahankan filosofi bahwa pakaian bukan sekadar penampilan, tetapi juga bentuk pelayanan personal yang memahami karakter setiap pelanggan.

Potret keluarga besar Wong Hang dari generasi ketiga dan generasi keempat yang hingga kini terus melanjutkan warisan tailoring keluarga lintas generasi (ANTARA/HO-dokumentasi pribadi Samuel Wongso)

Berawal dari Surabaya pada 1933

Perjalanan Wong Hang dimulai ketika keluarga pendirinya datang dari Guangzhou, China, ke Indonesia pada 1933. Saat itu, Surabaya menjadi salah satu pusat perdagangan yang dipenuhi masyarakat Eropa, Jepang, dan Tionghoa yang terbiasa mengenakan suit dalam aktivitas sehari-hari.

Melihat kebutuhan masyarakat saat itu, keluarga Wong Hang mulai membangun bisnis tailoring dengan pendekatan yang sangat personal. Mereka tidak sekadar membuat pakaian, tetapi juga memperhatikan proporsi tubuh, kenyamanan, hingga fungsi pakaian bagi setiap pelanggan.

Baca juga: Borneo FC gandeng Wong Hang sebagai "official tailor"

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |