Menjaga rupiah tetap berdaulat di perbatasan 

4 hours ago 1
Layanan ini sangat membantu masyarakat karena akses transaksi keuangan kini dapat dilakukan lebih dekat dari tempat tinggal mereka

Bengkayang (ANTARA) - Di Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalbar, batas negara kadang terasa lebih tipis dari pada sinyal telepon.

Ponsel di saku Carsan, yang akrab disapa Asep Dea, tiba-tiba menangkap sinyal operator Malaysia saat ia melangkah menuju SDN 08 Risau tempatnya mengajar. Itu, bukan hal aneh di kawasan perbatasan Kabupaten Bengkayang itu.

Siaran radio Malaysia terdengar lebih jernih, jaringan telepon negeri jiran kerap lebih kuat, bahkan sebagian kebutuhan sehari-hari warga berasal dari Sarawak. Tak sedikit pula warga Jagoi Babang yang hampir setiap hari melintasi perbatasan untuk berdagang di Pasar Serikin, Sarawak, yang dikenal sebagai weekend market.

Di pasar itu, hasil bumi, sayur-mayur, buah-buahan hingga kerajinan tangan dari wilayah perbatasan Indonesia dipasarkan kepada pembeli dari Malaysia, India, Brunei Darussalam, bahkan wisatawan mancanegara yang datang saat akhir pekan.

Bagi masyarakat Jagoi Babang, Malaysia bukan sekadar negara tetangga. Selama bertahun-tahun, negeri itu menjadi tempat berbelanja, menjual hasil kebun, hingga menukar mata uang. Ringgit pun beredar cukup akrab di tangan warga dan berdampingan dengan rupiah dalam sejumlah aktivitas ekonomi. Sementara itu, akses terhadap layanan perbankan Indonesia tidak selalu mudah dijangkau.

Perubahan demi perubahan yang kini terjadi di wilayah perbatasan itu disaksikan langsung oleh Asep Dea. Ia bukan sekadar guru yang mengajar di Jagoi Babang, melainkan juga saksi hidup bagaimana masyarakat perbatasan menjalani keseharian di antara dua negara, sekaligus perlahan beradaptasi dengan kemajuan layanan keuangan Indonesia.

Asep telah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan selama bertahun-tahun. Kariernya dimulai pada 2002 di SD Wirata 3, yang berada di kawasan Sentimok, Desa Kumba, wilayah perbatasan Kabupaten Sambas dengan Kecamatan Sajingan Besar. Kemudian ia melanjutkan pengabdian di Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang sejak 2007 hingga 2020.

Setelah itu, ia mendapat penugasan di SDN 06 Sei Take Jagoi Babang pada 2020 hingga 2023 sebelum akhirnya mengajar di SDN 08 Risau Kecamatan Jagoi Babang Bengkayang sejak 2023 hingga sekarang. Sejak itu, Asep juga menetap di Seluas, sebuah kawasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Bagi warga perbatasan, nama Asep bukan hanya dikenal sebagai pendidik. Ia adalah sosok yang tumbuh bersama denyut kehidupan masyarakat di wilayah tapal batas Indonesia-Malaysia.

Perbatasan Indonesia-Malaysia bukan hanya dipisahkan oleh garis imajiner antarnegara, tetapi juga oleh tantangan akses dan jarak.

Selama hampir dua dekade, ia menyaksikan bagaimana warga harus berjuang mengatasi keterbatasan akses, termasuk untuk mendapatkan layanan keuangan.

Asep Dea saat mengajar SDN 08 Risau, Kecamatan Jagoi Babang (ANTARA/Narwati)

QRIS

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |