Menhut: Perdagangan karbon dukung penciptaan ekosistem penurunan emisi

1 hour ago 5

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan perdagangan karbon mampu mendukung penciptaan ekosistem terpadu untuk penurunan emisi gas rumah kaca (GRK).

"Ke depan, kami berupaya menciptakan ekosistem terpadu untuk penurunan emisi GRK dengan pembiayaan berkelanjutan melalui perdagangan karbon, dan pembayaran berbasis kinerja agar dapat digunakan untuk kegiatan/program yang lebih luas oleh para penerima manfaat,” kata Menhut di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, perdagangan karbon nasional kini sudah didukung oleh berbagai regulasi dan instrumen strategis, salah satunya Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) sebagai fondasi pengembangan pasar karbon nasional.

Sistem tersebut dikelola Kementerian Lingkungan Hidup untuk mencatat, mengelola, dan memverifikasi unit karbon yang diperdagangkan.

Ia menyatakan SRUK dirancang untuk mendukung perdagangan karbon yang transparan, kredibel, dan berintegritas, sekaligus mencegah penghitungan ganda (double counting) atas penurunan emisi.

“Sehingga ini akan membuat satu ekosistem perdagangan karbon yang baik,” ujar Raja Antoni.

Selain itu, Menhut mengatakan upaya lain yang didorong pemerintah untuk mendukung terciptanya ekosistem terpadu pengurangan emisi dan ekonomi hijau adalah pendanaan berbasis iklim.

Salah satu pendanaan yang dikelola Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) berasal dari lembaga donor Green Climate Fund (GCF) melalui skema Results-Based Payment (RBP) serta dukungan Pemerintah Norwegia melalui skema Results-Based Contribution (RBC).

Pada tahun 2026, sebanyak 10 proposal dari 10 provinsi telah dinilai dan sedang dalam tahap persiapan pelaksanaan program, sebelum akhirnya dilakukan seremonial penandatanganan kerja sama penyaluran dana RBP untuk 10 provinsi.

Saat ini, sebanyak 34 provinsi telah mengakses pendanaan RBP REDD+ GCF Output 2, dengan total komitmen Rp761 miliar. Jumlah tersebut mencakup 94,8 persen dari total alokasi untuk provinsi.

“Saya kira ini satu hal yang sangat penting, RBP yang berbasis terhadap kinerja,” kata Menhut Raja Antoni.

“Semoga dengan berbagai macam skema yang lebih baik, yang lebih robust, esok kemudian hari dengan berbagai skema ini ya, kita dapat membangun sebuah sistem untuk menjaga hutan kita dengan lebih baik lagi,” imbuhnya.

Baca juga: Bappenas sebut pendanaan pemerintah memadai tangani dampak El Nino

Baca juga: Kemenhut-Emergent jajaki kerja sama pendanaan iklim dan kehutanan

Baca juga: Menhut: RI dan Norwegia sudah mulai pembicaraan pendanaan RBC-5

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |