Menhut dan Kepala BNPB berkantor di Kalteng kawal penanganan karhutla

1 hour ago 4

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto akan berkantor di Kalimantan Tengah untuk mengawal langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut keterangan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) diterima di Jakarta, Senin, keputusan untuk Menhut dan Kepala BNPB berkantor di Kalteng dilakukan salah satunya untuk mengawal operasi modifikasi cuaca (OMC) dalam rangka upaya pemadaman.

"Kami akan maksimumkan segala potensi yang ada, karena ini juga perintah Bapak Presiden agar dampak karhutla terhadap masyarakat dapat diminimalisir," ujar Menhut Raja Antoni.

Menhut Raja Antoni menekankan bahwa pemerintah terus memaksimalkan potensi awan hujan yang ada, sesuai dengan perintah Presiden Prabowo Subianto agar mengurangi dampak karhutla.

Rencana berkantor itu juga dikonfirmasi oleh Kepala BNPB Suharyanto yang menyebut keputusan itu diambil di tengah kondisi kabut asap dan belum turunnya hujan di Kalteng selama sekitar sepekan terakhir.

"Kami berdua juga yang tadinya hanya berkunjung kembali memutuskan untuk beberapa hari berkantor di Kalimantan Tengah," kata Suharyanto.

Suharyanto mengatakan keputusan berkantor di Kalteng dilakukan untuk mengawal upaya tersebut hingga OMC berhasil dan hujan turun.

"Supaya sampai dengan nanti operasi modifikasi cuacanya berhasil, hujan turun, paling tidak sedikit membantu terbukanya cuaca yang sekarang dipenuhi oleh kabut asap,” katanya.

Dia merujuk data yang memperlihatkan luas lahan terbakar di wilayah itu sebelumnya sekitar 180 hektare dengan satuan tugas pemadaman darat mampu memadamkan sekitar 150 hektare dalam sehari, sehingga tersisa sekitar 30 hektare yang masih dalam proses pemadaman.

Namun, penanganan belum selesai karena setiap hari masih muncul titik kebakaran baru dan lahan gambut yang telah padam dapat kembali menyala.

Di sisi lain, kabut asap masih menjadi tantangan karena tidak ada teknologi yang dapat langsung menghilangkan asap. Menurut Suharyanto, ada dua faktor yang dapat membantu mengurai asap, yakni angin dan hujan. Pemerintah pun mengupayakan hujan melalui OMC.

Satu pesawat OMC yang berada di Bandara Cilik Riwut sebelumnya tidak dapat beroperasi karena jarak pandang atau visibility rendah. Untuk mengatasi kendala tersebut, mulai malam berikutnya operasi OMC akan dilakukan dari Bandara Syamsudin Noor dan Bandara Pangkalan Bun.

Langkah itu dilakukan dengan mempertimbangkan potensi hujan berdasarkan prediksi BMKG.

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |