Mengunjungi rumah sakit nomor satu di Asia Tenggara

4 hours ago 2
Sepulang dari SGH, imaji tentang rumah sakit pun berubah; rumah sakit tak lagi terasa sebagai ruang yang menakutkan, melainkan sebagai tempat di mana harapan terus dirawat dan diciptakan melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jakarta (ANTARA) - Jika mendengar kata "rumah sakit", yang terlintas biasanya suasana tegang, lorong dingin, aroma antiseptik yang tajam, dan wajah-wajah cemas yang berlalu-lalang. Imaji itu begitu kuat, seolah-olah rumah sakit adalah ruang yang identik dengan ketakutan.

Namun, kesan tersebut perlahan runtuh ketika ANTARA, atas undangan Philips, berkesempatan mengunjungi Singapore General Hospital (SGH), rumah sakit yang menempati peringkat pertama di Asia Tenggara dalam pemeringkatan Newsweek tahun 2026.

Begitu menginjakkan kaki di sana pada 30 April 2026, nuansa yang terasa justru jauh dari kesan mencekam. Alih-alih kaku dan menegangkan, SGH menghadirkan atmosfer yang lebih menyerupai pusat riset masa depan: tenang, modern, dan mengagumkan.

Sulit dipercaya bahwa institusi yang berdiri sejak 1821 ini merupakan rumah sakit tertua sekaligus terbesar di Singapura. Alih-alih terjebak dalam bayang-bayang usia, SGH justru menunjukkan bagaimana sejarah panjang lebih dari dua abad bisa berpadu harmonis dengan teknologi mutakhir.

Dalam kunjungan tersebut, ANTARA berkesempatan menyaksikan langsung SGH Innovation Showcase, sebuah ruang yang memamerkan berbagai terobosan medis yang bukan hanya informatif, tetapi juga memukau hingga membuat siapa pun ternganga.

Berikut pengalaman berkeliling rumah sakit yang berlokasi di kawasan Outram Park, dengan luas bangunan mencapai 146.000 meter persegi, sekaligus menyaksikan bagaimana kecerdasan buatan (AI) dan teknologi medis mutakhir mentransformasi cara mereka merawat pasien.

Salah satu peserta asal Korea Selatan menjajal program layanan PENSIEVE-AI yang dapat mendeteksi gangguan kognitif dan demensia pada pasien lansia, Kamis (30/4/2026). ANTARA/Ilham Kausar


Pemberhentian pertama adalah sebuah area demonstrasi yang menampilkan program layanan bernama PENSIEVE-AI. Sekilas, aplikasi ini tampak sederhana, hanya seperti fitur menggambar di tablet, sehingga sempat menimbulkan skeptisisme.

Namun di balik tampilannya yang minimalis, ternyata tersimpan teknologi kecerdasan buatan hasil kolaborasi antara SGH dan GovTech Singapore, lembaga di bawah Kantor Perdana Menteri yang memimpin transformasi digital dan inisiatif Smart Nation. Teknologi ini dirancang untuk mendeteksi gangguan kognitif, termasuk demensia, pada pasien lanjut usia.
Selama ini, pemeriksaan kognitif bagi lansia dikenal rumit, memakan waktu lama, dan relatif mahal. Akibatnya, sekitar 80 hingga 90 persen kasus gangguan kognitif kerap terlambat terdiagnosis.

PENSIEVE-AI hadir sebagai solusi yang menyederhanakan proses tersebut. Dalam demonstrasi yang disaksikan ANTARA, pasien hanya diminta menyelesaikan empat tugas menggambar di layar tablet dengan mengikuti pola yang telah disediakan.

Baca juga: Menkes jajaki kerja sama dua rumah sakit terkemuka Singapura

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |