Menempatkan pembangunan pertanian untuk kesejahteraan petani

1 day ago 1
Dengan menempatkan petani sebagai pusat pembangunan, sektor pertanian Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi tulang punggung ketahanan pangan sekaligus jalur nyata menuju kesejahteraan yang berkelanjutan

Jakarta (ANTARA) - Pertanian telah lama menjadi fondasi penting dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini tidak hanya berperan sebagai penopang ketahanan pangan bagi lebih dari 280 juta penduduk Indonesia, tetapi juga menjadi sumber penghidupan utama bagi jutaan rumah tangga perdesaan.

Dalam perjalanan pembangunan nasional, pertanian berfungsi sebagai penyerap tenaga kerja, bantalan ekonomi saat krisis, serta instrumen strategis dalam upaya pengurangan kemiskinan.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) bahkan secara konsisten menegaskan bahwa pertanian merupakan fondasi pembangunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan, memperkuat ketahanan sosial, serta melindungi negara dari berbagai guncangan ekonomi.

Peran strategis ini juga tercermin dalam arah kebijakan pembangunan nasional. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025–2045 menempatkan penguatan sektor pertanian sebagai pintu masuk menuju kedaulatan pangan dan pembangunan berkelanjutan yang inklusif.

Selaras dengan itu, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025–2029 menjadikan swasembada pangan sebagai prioritas nasional dengan sasaran peningkatan produktivitas, nilai tambah, serta perbaikan tata kelola sistem pangan.

Arah kebijakan ini menunjukkan optimisme negara bahwa pertanian dapat menjadi pilar utama pembangunan jangka panjang, bukan hanya sekadar sektor tradisional yang berjalan apa adanya.

Namun, di balik peran strategis tersebut, kesejahteraan petani masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Survei Ekonomi Pertanian 2024 menunjukkan bahwa pendapatan usaha pertanian belum sepenuhnya mampu menopang kebutuhan hidup rumah tangga petani.

Sekitar 46,6 persen rumah tangga pertanian menyatakan pendapatannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, sementara hampir separuh lainnya menilai pendapatannya kurang atau sangat kurang. Data ini memberi pesan penting bahwa peningkatan produksi pertanian yang telah dicapai selama ini belum sepenuhnya terkonversi menjadi peningkatan kesejahteraan yang nyata.

Pemenuhan kebutuhan hidup sangat erat kaitannya dengan tingkat pendapatan. Hasil Survei Ekonomi Pertanian 2024 juga menunjukkan bahwa rumah tangga pertanian pada kelompok pendapatan rendah, terutama desil satu hingga empat, sebagian besar berada pada kategori sangat tidak cukup hingga tidak cukup dalam memenuhi kebutuhan.

Sebaliknya, rumah tangga pada kelompok pendapatan lebih tinggi relatif lebih banyak yang menyatakan kebutuhannya terpenuhi dengan baik. Pola ini memperlihatkan adanya kesenjangan kesejahteraan di kalangan petani, sekaligus menegaskan bahwa peningkatan pendapatan merupakan kunci utama perbaikan kualitas hidup.

Salah satu faktor struktural yang memengaruhi kondisi tersebut adalah penguasaan lahan. Data BPS menunjukkan sekitar 60 persen petani penggarap di Indonesia merupakan petani kecil dengan luas lahan kurang dari setengah hektare. Skala usaha yang terbatas ini membatasi potensi pendapatan, sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap fluktuasi harga, kenaikan biaya input, serta risiko iklim.

Berbagai kajian FAO menunjukkan bahwa pada usaha tani keluarga berskala kecil, pendapatan dari lahan yang dikelola sering kali hanya menyumbang sebagian dari total pendapatan rumah tangga.

Isu sentral

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |