"Mendung" di Montevideo

9 hours ago 1
Kalau tidak mau repot-repot mempertimbangkan semua kemungkinan, timnas Uruguay hanya perlu melakukan satu hal: tumbangkan Spanyol

Jakarta (ANTARA) - Angin yang berembus melewati pepohonan Taman Parque Batlle di Ibu Kota Uruguay, Montevideo, pelan-pelan singgah ke wajah Jose Nasazzi, kapten sekaligus bek tim nasional negara itu, yang penuh dengan keringat.

Nasazzi, yang bersama rekan-rekannya tengah bertanding melawan Argentina di Stadion Centenario, 30 Juli 1930, memang memerlukan kesejukan itu.

Sebabnya, tekanan laga tersebut begitu besar. Maklum, itu adalah final Piala Dunia 1930, Piala Dunia pertama sepanjang sejarah.

Uruguay unggul terlebih dahulu lewat gol Pablo Dorado (12'), yang dibalas dua gol oleh Argentina lewat Carlos Pucelle (20') dan Guillermo Stabile (37').

Tertinggal 1-2, Jose Nasazzi meminta timnya untuk tetap tenang. Dia yang kala itu baru berusia 29 tahun yakin Uruguay lebih baik dari Argentina, apalagi mereka merupakan peraih medali emas Olimpiade 1924 dan 1928.

Bukan juga itu, mereka adalah kampiun Kejuaraan Sepak Bola Amerika Selatan (sekarang Copa America Conmebol) pada 1923, 1924 dan 1926. Artinya, bagi Nasazzi, tidak ada alasan untuk tidak dapat mengejar kedudukan.

Saat turun minum, Nasazzi memberikan motivasi bagi rekan-rekannya. Timnas Uruguay, dia menekankan, adalah skuad tangguh yang siap melibas semua rintangan. Argentina hanya salah satu dari ganjalan tersebut.

Inspirasi dari Nasazzi membuahkan hasil. Pedro Cea menyamakan skor menjadi 2-2 pada menit 57, disusul gol Santos Iriarte (68') dan Hector Castro (89') untuk membawa Uruguay menang 4-2.

Masyarakat Montevideo pun bersorak gembira, begitu pula Jose Nasazzi. Dia memeluk nyaris semua orang yang ditemuinya di lapangan. Nasazzi juga menjadi kapten pertama yang mengangkat trofi Piala Dunia, yang waktu itu masih bernama trofi Jules Rimet.

Bagi Uruguay, prestasi prestisius tersebut penegasan betapa tangguhnya mereka kala itu.

FIFA menyatakan Uruguay adalah kekuatan global pertama dalam sejarah sepak sepak bola dunia setelah menjadi yang terbaik di Piala Dunia 1930, penegasan kualitas setelah merebut tahta tertinggi di Olimpiade 1924 dan 1928.

Masa cerah sepak bola Uruguay yang berpusat di Montevideo bertahan selama beberapa saat sebelum diselubungi mendung bertahun-tahun kemudian.

Memudar

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |