Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI) Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH menyampaikan pentingnya mencegah penyakit gagal ginjal turut membantu dalam menyelamatkan lingkungan.
Dalam diskusi kesehatan memperingati Hari Ginjal Sedunia 2026 di Jakarta, Rabu, Pringgodigdo menyoroti bahwa terapi pengganti ginjal seperti dialisis memiliki jejak lingkungan yang tinggi.
“Dan yang bikin limbah lingkungan itu terapi pengganti ginjal dialisis, cuci darah, itu yang tinggi sekali jejak lingkungannya. Jadi kalau kita bisa mencegah penyakit ginjal, akhirnya lingkungan pun terselamatkan,” kata Pringgodigdo.
Pringgodigdo menjelaskan bahwa pasien yang sudah mengalami penyakit ginjal tahap akhir memerlukan terapi pengganti ginjal atau kidney replacement therapy.
Terapi ini tidak menyembuhkan ginjal yang rusak, melainkan hanya berfungsi menggantikan kerja ginjal yang sudah menurun. Secara garis besar, terapi pengganti ginjal ini terdapat dua metode, yakni dialisis dan transplantasi.
Baca juga: Kemenkes: CKG & inovasi mampu kurangi emisi karbon dari terapi ginjal
Salah satu terapi pengganti ginjal, lanjut Pringgodigdo, yang paling banyak digunakan adalah hemodialisis atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai “cuci darah”. Namun, masih banyak pasien yang masih enggan menjalani terapi ini.
“Banyak pasien biasanya ke dokter udah denger cuci darah, udah enggak mau aja. Biasanya sering lari, dengan harapan supaya tidak diminta cuci darah. Ini kenyataannya, jadi kita masih terus meningkatkan pengetahuan indikasi dan juga perlunya hemodialisis,” tutur dia.
Pringgodigdo menyampaikan terapi hemodialisis atau cuci darah umumnya dilakukan sebanyak dua hingga tiga kali setiap minggu bagi pasien dengan gangguan fungsi ginjal.
Prosedur terapi ini menggunakan mesin untuk menyaring darah dengan cara mengalirkannya keluar dari tubuh, kemudian memasukkannya kembali setelah melalui proses yang disebut ginjal buatan atau dialiser
Di dalam dialiser itu membuang toksin atau racun, kelebihan cairan, sebelum darah dikembalikan ke tubuh pasien. Meski efektif membantu pasien, terapi ini juga membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit.
Menurut Pringgodigdo, prosedur terapi ini membutuhkan infrastruktur, air, dan energi, yang turut berdampak pada lingkungan.
Baca juga: Menjaga kesehatan ginjal di bulan puasa dengan cukup minum air
“Setiap sesi hemodialisis untuk per mesinnya per pasien itu digunakan 120 liter air. Listrik juga pasti. Juga menghasilkan limbah medis, dari bahan medis habis pakai, sehingga akan meningkatkan jejak karbon atau jejak lingkungan,” jelas dia.
Pringgodigdo mengatakan sejumlah studi menunjukkan bahwa hemodialisis akan menyebabkan limbah biomedikal. Oleh karena itu, perlunya mendorong penerapan konsep Green Dialysis untuk mengurangi dampak lingkungan dari terapi ini.
Adapun dalam rangka memperingati Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) 2026 mengangkat tema "Caring for People, Protecting the Planet" (Merawat Kesehatan Ginjal, Melindungi Bumi). Kampanye tersebut bertujuan mendorong sistem pelayanan kesehatan yang lebih efisien, berkelanjutan, serta ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Pringgodigdo menekankan mencegah penyakit gagal ginjal dengan pentingnya deteksi dini. Ia berharap kemajuan teknologi ke depannya mampu membantu deteksi dini penyakit ginjal secara lebih dini melalui biomarker.
“Pencegahan, deteksi dini, terapi optimal untuk menghambat progresivitas ke penyakit ginjal tahap akhir, dan yang tidak kalah penting juga edukasi masyarakat. Merawat ginjal sejak dini, untuk masa depan yang lebih sehat, dan melindungi bumi yang kita cintai,” tutur Pringgodigdo.
Baca juga: Siasat terapkan diet tinggi protein tanpa ganggu kesehatan ginjal
Baca juga: Waspada, Dokter: Minuman berwarna tingkatkan risiko gagal ginjal
Baca juga: 5 menu sarapan pagi sehat untuk penderita penyakit ginjal
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































