Menanti transformasi Basarnas di bawah komando sang Guru Penerbang

6 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, menjadi saksi perjalanan karir Mohammad Syafii. Di sanalah perwira tinggi TNI Angkatan Udara ini menghabiskan separuh hidupnya sebagai penjaga kedaulatan udara Indonesia.

Kini perjalanan hidup Mohammad Syafii memasuki lembaran baru setelah dia resmi menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).

Memimpin Basarnas merupakan misi yang mungkin berbeda bagi perwira berpangkat Marsekal Muda TNI ini, karena ia bukan lagi menjadi perancang strategi aviasi militer untuk menjaga kedaulatan negara, tetapi kini ia mengemban tanggung jawab baru untuk menyelamatkan nyawa-nyawa manusia dari kondisi bahaya di darat, perairan, dan udara.

Pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur ini memiliki rekam jejak panjang di dunia aviasi militer. Memulai karir sebagai prajurit Angkatan Udara angkatan 1991, ia kemudian tergabung dalam satuan Korps Penerbang, dan semasa muda ia juga pernah menjadi pilot andalan untuk sejumlah misi penanggulangan bencana nasional.

Dengan kemahiran mengendalikan pesawat-helikopter, membawa Syafii pada tugas sebagai instruktur penerbang di Yogyakarta dari 2002 hingga 2013. Karirnya melejit sampai menjabat sejumlah posisi strategis, termasuk Kepala Dinas Operasi Lanud Suryadarma (2009), Kepala Dinas Personel Lanud Adisutjipto (2011), Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (2017), Kepala Dinas Pendidikan TNI AU (2022), hingga Asisten Personel Panglima TNI (2024).

Pada awal Januari 2025, ia ditunjuk sebagai Kepala Basarnas melalui Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/7/I/2025, dan resmi dilantik pada 21 Februari 2025 oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi berdasarkan SK Presiden Nomor 34/TPA Tahun 2025. Dalam hal ini Syafii meneruskan pengabdian Marsekal Madya TNI Kusworo, yang tidak lain adalah seniornya di Angkatan Udara yang kini sudah memasuki usia purnatugas.

Kepala Basarnas Mohammad Syafii menerima bendera pataka dari eks Kepala Basarnas Kusworo dalam acara serah terima jabatan di Kantor Basarnas Pusat, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta, Senin (24/2/2025) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo

Syafii memahami bahwa tugas baru yang ia emban bukan perkara mudah. Basarnas adalah garda terakhir bagi setiap individu yang terjebak dalam bencana alam dan kecelakaan transportasi. Mulai dari pesawat jatuh tanpa jejak di laut atau hutan belantara, kapal karam dihempas badai, atau ketika tanah berguncang dan meninggalkan puing-puing harapan, Basarnas hadir sebagai pembawa harapan terakhir.

Harapan itu tidak datang tanpa tantangan. Sebagai negara kepulauan yang berdiri lebih dari 17 ribu pulau di atas pertemuan tiga lempeng tektonik besar Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik, Indonesia tak pernah lepas dari ancaman bencana alam. Tsunami, gempa bumi, tanah longsor, dan banjir bandang, hingga gunung meletus telah menjadi bagian dari realitas negeri ini. Ditambah dengan kecelakaan transportasi yang sering terjadi di perairan luas dan jalur udara yang padat. Kondisi ini membuat tugas Basarnas semakin berat.

Setiap tahun, lebih dari 2.400 operasi pencarian dan pertolongan dilakukan, dengan lebih dari 20.000 jiwa berhasil diselamatkan, termasuk pula korban yang ditemukan tak bernyawa lagi. Namun di balik angka-angka itu, juga ada perjuangan yang tak selalu terdengar manis.

Di medan tugas, para regu penyelamat Basarnas sering kali mempertaruhkan nyawa mereka. Tak jarang ada penyelam yang cedera saat berusaha mengevakuasi korban dari bangkai kapal yang tenggelam. Ada tim yang bertahan dalam cuaca ekstrem, menghadapi risiko tertimbun longsor atau terseret arus deras. Ada pula isak tangis keluarga korban yang menanti dengan doa, berharap kabar baik datang atau setidaknya kepastian tentang orang-orang terkasih mereka.

Tugas Basarnas sungguh penuh risiko. Terbukti dengan gugurnya beberapa personel saat menjalankan operasi SAR, seperti Tengku Rahmatsyah Putra dan Dodi Prananta yang meninggal saat pencarian korban hanyut di Sumatera Utara, serta empat personel lainnya yang tewas akibat kecelakaan kapal saat bertugas di Jambi dan Ternate belum lama ini.

Arsip foto - Personel Basarnas melihat kondisi speedboat RIB 04 milik Basarnas Ternate yang meledak hingga menewaskan dua personel Basarnas, satu personel Polri dan seorang jurnalis televisi di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate, Maluku Utara, Senin (3/2/2025). ANTARA FOTO/Andri Saputra/nym.

Rentetan peristiwa itu membuat Syafii harus memastikan bahwa setiap operasi pencarian dan pertolongan berjalan dengan lebih efektif dan efisien. Namun lagi-lagi, tantangan besar menanti. Salah satu hambatan utama adalah keterbatasan anggaran yang berdampak pada pengadaan peralatan utama.

Rencana pembelian perangkat baru seperti drone pencari korban, radar jarak jauh, dan remotely operated vehicle (ROV) bawah laut yang seharusnya mempercepat proses pencarian, harus ditunda lagi tahun ini. Padahal, dalam dunia penyelamatan, teknologi dapat menjadi perbedaan antara hidup dan matinya individu.

Selain itu, jumlah personel yang ada masih jauh dari ideal. Dengan hanya sekitar 4.000 personel tetap di 44 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di seluruh Indonesia, tugas pencarian dan pertolongan acapkali harus bergantung pada lebih dari 23.000 relawan SAR seperti para mahasiswa/kelompok pencinta alam, termasuk potensi SAR dari TNI, Polri, BNPB, BPBD, Palang Merah Indonesia (PMI), hingga Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Kementerian Sosial.

Meskipun keberadaan relawan dan potensi SAR sangat membantu, tapi koordinasi antara mereka dan tim utama membutuhkan sistem yang lebih solid. Tanpa sinergi yang baik, operasi di lapangan bisa menjadi kurang efektif.

Basarnas juga menghadapi ujian integritas setelah empat mantan pejabat tingginya --termasuk mantan Kepala Basarnas Henri Alfiandi dan mantan Sekretaris Utama Basarnas Max Ruland Boseke-- tersandung kasus suap yang ditangani aparat penegak hukum pada 2023-2024. Dari dua berkas perkara berbeda, terungkap adanya praktik korupsi dalam pengadaan barang dan jasa, yang melibatkan kerja sama antara oknum internal Basarnas dan pihak swasta. Hal ini tentu menjadi alarm yang nyaring di telinga Syafii untuk memperkuat tata kelola organisasi yang bersih dan transparan, sekaligus menegaskan komitmen dalam menutup celah korupsi di lembaga yang berorientasi pada misi kemanusiaan ini.

Menghadapi kenyataan ini, Syafii mengaku akan tegas mendorong transformasi dengan berbagai langkah strategis.

Dalam pidato perdananya sebagai Kepala Basarnas di Kantor Basarnas Pusat Jalan Angkasa itu, hal pertama yang ia tekankan adalah merestorasi manajemen korps baju oranye secara menyeluruh, beriringan dengan peningkatan kapasitas melalui pelatihan - sertifikasi bagi personel dan relawan, agar setiap operasi SAR dilakukan sesuai standar keselamatan tertinggi.

Berbekal pengalamannya kala berdinas sebagai Kepala Biro Telematika Lemhannas dalam menangani misi negara seperti urusan di kawasan Laut Cina Selatan hingga penangulangan penyebaran virus COVID-19, Syafii menilai keberhasilan misi ditentukan oleh sikap profesionalisme prajurit yang tak berkutat dengan keterbatasan, tapi inovasi, memanfaatkan sumber daya yang ada dengan sangat optimal.

Tentu dalam hal ini Syafii tidak alergi dengan pemanfaatan teknologi. Dia juga menegaskan akan meneruskan program kerja pimpinan Basarnas sebelumnya, menyangkut pengembangan sistem pemetaan berbasis digital, kecerdasan buatan, teknologi pesawat tanpa awak (drone), dan pemancar satelit untuk mempercepat upaya pencarian di medan sulit dijangkau.

Syafii juga menyebut, ia akan memperkuat kolaborasi dengan lembaga SAR internasional dan memperkokoh hubungan bilateral dengan negara sahabat dalam bidang SAR demi kepentingan domestik maupun eksistensi Indonesia dalam misi kemanusiaan skala global. Poin ini sudah secara aktif dirintis Basarnas dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak berdiri pada 28 Februari 1972, Basarnas telah mengukir sejarah panjang dalam dunia pencarian dan pertolongan, seperti operasi besar pencarian pesawat Twin Otter di Sulawesi hingga Boeing 727-PANAM di Bali, jatuhnya Sriwijaya Air SJ182 di kawasan Kepulauan Seribu, hingga misi pencarian korban gempa bumi di Turki 2023.

Lembaga ini pun bersinar di kancah internasional, terbukti dengan meraih predikat medium level melalui standar International Search and Rescue Advisory Group (INASARAG) 2019. Prestasi itu kian memperkokoh peran Basarnas sejak pertama kali disahkan keanggotaannya dalam National Association of SAR (NASAR) Amerika Serikat pada 1975.

Pengakuan internasional itu seiring dengan semakin ketatnya standar operasional personel Basarnas. Setiap kantor SAR di seluruh Indonesia harus merespons laporan kejadian dalam waktu maksimal 25 menit. Waktu tempuh menuju lokasi insiden dihitung secara detail agar pencarian dapat dilakukan dalam golden time, periode kritis 3x24 jam setelah kejadian yang menentukan peluang korban untuk bertahan hidup.

Namun, lebih dari sekadar strategi dan teknologi, bagi Syafii, Basarnas juga menyangkut tentang ketahanan manusia beradaptasi dengan alam, sebagaimana semboyan mereka AVIGNAM JAGAT SAMAGRAM (Semoga selamatlah alam semesta). Oleh karena itu peran edukasi SAR kepada masyarakat juga akan lebih ditingkatkan mulai dari mendirikan sekolah tinggi SAR hingga sosialisasi secara kolaboratif dengan para mitra strategis Basarnas, termasuk kalangan jurnalis.

Pada era keterbukaan informasi saat ini, publik tentu dapat selalu mengawasi dan menanti segenap komitmen tersebut terwujudkan. Semua ini tentang bagaimana Basarnas menjaga asa setiap anak dan istri yang menunggu ayahnya pulang melaut berhadapan dengan ombak ganas, juga tentang seorang ibu yang berdoa agar anaknya yang hilang dapat ditemukan, meskipun hanya dalam bentuk kepingan harapan terakhir.

Maka, di bawah komando sang "Guru Penerbang", Basarnas yang pada 28 Februari ini merayakan ulang tahunnya ke-53 harus lebih bersiap menghadapi masa depan dengan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya.

Baca juga: Syafii: Basarnas terbuka untuk menerima saran dan kritik

Baca juga: Kepala Basarnas Mohammad Syafii tegaskan komitmen layanan SAR 24 jam

Baca juga: Basarnas harus perkuat edukasi SAR ke masyarakat

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |