Memperkuat benteng devisa Indonesia

5 days ago 5
Banyak bank sentral di dunia kini mulai mendiversifikasi portofolio cadangan mereka dengan memasukkan berbagai instrumen keuangan berkualitas tinggi untuk meningkatkan imbal hasil tanpa mengorbankan keamanan

Jakarta (ANTARA) - Dalam dunia ekonomi global yang semakin tidak pasti, cadangan devisa menjadi salah satu indikator paling penting bagi ketahanan ekonomi sebuah negara.

Cadangan devisa berfungsi sebagai "tameng" yang melindungi stabilitas nilai tukar, menjaga kepercayaan investor, serta menyediakan likuiditas ketika terjadi tekanan pada neraca pembayaran.

Pengalaman berbagai krisis keuangan menunjukkan bahwa negara dengan cadangan devisa yang kuat lebih mampu menghadapi gejolak global dibandingkan negara yang cadangannya terbatas. Karena itu, memperkuat cadangan devisa bukan sekadar kebijakan moneter, tetapi strategi fundamental untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Dalam konteks Indonesia, posisi cadangan devisa sebenarnya relatif kuat dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Bank Indonesia mencatat bahwa cadangan devisa Indonesia pada awal 2026 berada di sekitar 151 miliar–155 miliar dolar AS, sedikit turun dari posisi akhir 2025 karena pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi stabilisasi nilai tukar rupiah.

Meski demikian, jumlah tersebut masih cukup untuk membiayai sekitar enam bulan impor atau lebih dari dua kali standar kecukupan internasional yang hanya sekitar tiga bulan impor.

Standar tiga bulan impor tersebut sering digunakan oleh lembaga internasional seperti IMF sebagai batas minimal keamanan. Artinya, jika sebuah negara memiliki cadangan devisa yang cukup untuk membayar impor selama tiga bulan, negara tersebut dianggap memiliki bantalan dasar untuk menghadapi krisis neraca pembayaran.

Indonesia dengan cadangan sekitar enam bulan impor berarti memiliki ruang stabilitas yang relatif baik. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah level ini sudah ideal untuk menghadapi ketidakpastian global yang semakin besar?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat perbandingan dengan negara lain. Negara-negara Asia Timur dikenal memiliki cadangan devisa yang sangat besar sebagai pelajaran dari krisis Asia 1997–1998. China misalnya, memiliki cadangan devisa lebih dari 3 triliun dolar AS, terbesar di dunia. Jepang menyimpan lebih dari 1 triliun dolar AS, sementara Korea Selatan memiliki sekitar 400 miliar dolar AS cadangan devisa. Negara-negara tersebut sengaja membangun cadangan besar untuk memastikan stabilitas mata uang dan melindungi ekonomi domestik dari volatilitas arus modal global.

Bahkan negara berkembang lain di Asia juga memiliki cadangan yang cukup besar relatif terhadap ukuran ekonominya. India memiliki cadangan devisa lebih dari 600 miliar dolar AS, sementara Thailand memiliki lebih dari 200 miliar dolar AS. Strategi mereka relatif sama; membangun cadangan devisa besar sebagai asuransi makroekonomi terhadap krisis global.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tersebut, cadangan devisa Indonesia memang terlihat lebih kecil secara nominal. Namun perbandingan yang lebih tepat sebenarnya adalah terhadap ukuran ekonomi atau nilai impor. Dengan ukuran ekonomi sekitar 1,4 triliun dolar AS, cadangan devisa Indonesia sekitar 10–11 persen dari PDB. Rasio ini sebenarnya cukup sehat, tetapi masih lebih rendah dibandingkan beberapa negara Asia yang mencapai 20–30 persen dari PDB.

Dari perspektif stabilitas eksternal, banyak ekonom menilai bahwa negara berkembang idealnya memiliki cadangan devisa yang mampu menutup 6 hingga 9 bulan impor, terutama bagi negara dengan struktur ekspor komoditas yang fluktuatif.

Indonesia saat ini berada di kisaran enam bulan impor, sehingga secara teknis sudah memenuhi standar kehati-hatian. Namun untuk menghadapi volatilitas global yang semakin tinggi, meningkatkan cadangan devisa secara bertahap tetap menjadi strategi yang bijak.

Semakin penting

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |