Media sosial jadi referensi utama pelaku swamedikasi

2 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Riset ilmiah menunjukkan bahwa praktik swamedikasi semakin luas dilakukan masyarakat Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (2024) mencatat jumlah penduduk yang melakukan pengobatan sendiri mencapai 78,95 persen.

Angka ini menggambarkan bahwa sebagian besar masyarakat memilih menangani gangguan kesehatan secara mandiri, sebelum berkonsultasi langsung dengan tenaga medis.

Swamedikasi sendiri merupakan upaya pengobatan yang dilakukan seseorang untuk mengatasi keluhan kesehatan, tanpa konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional.

Ketika mengalami gejala penyakit, seseorang mengambil keputusan sendiri untuk merawat dan mengobati gangguan kesehatan yang dialaminya, baik dengan obat yang tersedia di rumah maupun dengan memanfaatkan bahan alami, seperti tumbuhan obat.

Fenomena ini tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa daerah menunjukkan tingkat swamedikasi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.

Provinsi Kalimantan Selatan mencatat persentase tertinggi, yakni mencapai 89 persen. Di Jakarta, tingkat swamedikasi mencapai 76,02 persen, sementara di Jawa Barat sebesar 80,22 persen.

Tingginya angka tersebut memunculkan pertanyaan penting. Apa motif masyarakat melakukan swamedikasi, dan siapa yang menjadi kelompok referensi atau sumber acuan dalam mengambil keputusan pengobatan mandiri tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan itu, tim peneliti dari Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Pakuan melakukan riset ilmiah dengan pendekatan kualitatif. Penelitian yang berlangsung pada 2025 hingga 2026 tersebut didanai oleh hibah internal universitas.

Penelitian ini melibatkan 66 responden untuk mengungkap motif serta kelompok referensi yang memengaruhi keputusan swamedikasi.

Selain itu, peneliti juga menggelar kelompok diskusi terpumpun atau focus group discussion pada 22 Januari 2026 guna memperdalam temuan lapangan.

Diskusi tersebut menghadirkan berbagai narasumber, mulai dari pelaku swamedikasi, herbalis, hingga petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor.

Para informan penelitian merupakan warga Kabupaten Bogor, Jawa Barat, berusia minimal 18 tahun, dan memiliki pengalaman melakukan swamedikasi.

Sebagian besar dari mereka pernah mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti asam urat, batu ginjal, diabetes melitus, kanker, kolesterol, dan vertigo. Untuk mengatasi kondisi tersebut, mereka memanfaatkan beragam tumbuhan obat sebagai bagian dari upaya pengobatan kuratif.

Dari sisi demografi, para informan terdiri atas 64 persen perempuan dan 36 persen laki-laki. Rentang usia responden cukup beragam, yakni 20–39 tahun (33 persen), 40–59 tahun (50 persen), serta 60–78 tahun (17 persen).

Para informan diwawancarai secara langsung untuk menggali pengalaman serta pertimbangan mereka dalam melakukan swamedikasi.


Temuan penting

Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah peran kelompok referensi yang memberikan standar, nilai, dan rujukan informasi bagi seseorang dalam menentukan pilihan pengobatan. Kelompok referensi tersebut ternyata sangat beragam, mulai dari keluarga, hingga media sosial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial dan internet menjadi kelompok referensi paling dominan, dengan persentase mencapai 28,78 persen.

Ketika menghadapi gangguan kesehatan, banyak pelaku swamedikasi mencari informasi melalui berbagai platform digital untuk mengetahui jenis tumbuhan obat yang dipercaya dapat mengatasi keluhan mereka.

Meski mengandalkan media sosial, para pelaku swamedikasi tidak sepenuhnya menerima semua informasi secara mentah.

Mereka cenderung memilih sumber yang dianggap memiliki kredibilitas tinggi, terutama konten yang disampaikan oleh individu yang berprofesi sebagai dokter. Kehadiran figur profesional tersebut meningkatkan kepercayaan terhadap informasi yang disampaikan.

Penelitian ini juga menunjukkan adanya perbedaan pola penggunaan media sosial berdasarkan kelompok usia.

Media sosial sebagai sumber referensi paling banyak digunakan oleh kelompok usia 20–39 tahun. Dalam kelompok usia ini, sekitar 50 persen responden menjadikan media sosial sebagai sumber rujukan utama.

Sebagian dari mereka merupakan generasi muda yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Bagi kelompok usia ini, internet menjadi ruang utama untuk memperoleh informasi kesehatan.

Sebaliknya, pada kelompok usia yang lebih tua, penggunaan media sosial sebagai sumber referensi cenderung lebih rendah. Pada kelompok usia 60–78 tahun, misalnya, hanya sekitar 18 persen yang menjadikan media sosial sebagai sumber acuan dalam swamedikasi.

Selain media sosial, keluarga juga memainkan peran penting sebagai kelompok referensi. Orang tua, termasuk mertua, menjadi sumber rujukan bagi sekitar 25,75 persen responden. Pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan obat sering kali diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |