Legislator minta pemerintah waspadai persaingan impor migas

6 days ago 6

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN Eddy Soeparno meminta Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM dan Pertamina mewaspadai persaingan impor migas oleh negara-negara yang memiliki ketergantungan impor dari Timur Tengah yang lebih besar dari Indonesia.

Langkah antisipasi itu harus dilakukan agar kebutuhan negara akan migas tetap terpenuhi di tengah konflik Timur Tengah yang sedang berkecamuk.

"Saat ini Indonesia mengimpor 20 persen kebutuhan migasnya dari Timur Tengah. Selebihnya diimpor dari Nigeria, Angola, Australia bahkan Brazil. Artinya, Indonesia mampu mengandalkan dan bahkan meningkatkan suplai migasnya dari negara-negara di luar Timur Tengah saat pasokan migas dari Timur Tengah terhenti akibat penutupan lalu lintas migas yang melalui Selat Hormuz," kata Eddy dalam siaran pesnya.

Eddy melanjutkan, Indonesia perlu mencermati negara-negara lain seperti China, India, Jepang dan Korea Selatan yang memiliki volume impor yang lebih besar dari Indonesia, baik secara angka absolut maupun dari sumber Timur Tengah

Berdasarkan data yang dia punya, China mengimpor migas sebesar 11 juta barel per hari, disusul India sekitar 6 juta barel per hari dan Jepang serta Korsel di kisaran 2-2.5 juta barel per hari.

"Jika volume impor China dan India dari Timur Tengah sekitar 55-60 persen dan Jepang serta Korsel mengandalkan Timur Tengah untuk 80-90 persen pasokan migasnya, maka penutupan Selat Hormuz akan membuat negara-negara tersebut segera mengalihkan impor migasnya dari sumber-sumber lain yang juga menjadi pemasok migas bagi Indonesia," kata dia.

"Dengan kata lain, Indonesia bisa 'berebut' pasokan minyak dan gasnya dengan negara-negara importir raksasa lainnya,” tambah Eddy.

Karena itu, dia meminta agar Pertamina mengantisipasi skenario terburuk dalam hal pasokan terganggu dan harga migas melonjak lebih tinggi dari saat ini.

Dia menilai langkah pertama yang bisa dilakukan yakni memastikan komitmen negara-negara pemasok migas untuk Indonesia tidak tergoyahkan.

Kedua, lanjut dia, pemerintah perlu mengantisipasi lonjakan harga migas jika terjadi kerusakan atau penghancuran ladang dan infrastruktur migas di negara-negara penghasil migas terbesar seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait dan Bahrain.

"Ketiga, diversifikasi impor dari negara lainnya seperti Amerika Serikat perlu dipercepat, apalagi kita telah memiliki perjanjian perdagangan yang mensyaratkan Indonesia membeli produk minyak mentah, LNG, LPG dan produk petroleum lainnya," lanjut Eddy..

Dengan melakukan langkah-langkah antisipasi itu, Eddy meyakini Indonesia akan terhindari dari ancaman kelangkaan migas selama perang berlangsung.

Baca juga: Menko Airlangga: Impor BBM dan LPG dari AS tetap lewat proses lelang

Baca juga: Menko Airlangga: Impor migas dari AS sesuaikan kebutuhan Indonesia

Baca juga: Menteri Bahlil tekankan impor migas dari AS harus seefisien mungkin

Baca juga: Indonesia buka peluang impor migas dari Rusia

Pewarta: Walda Marison
Editor: Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |