Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai dampak konflik geopolitik Timur Tengah tidak hanya terhadap migas tapi juga stabilitas pangan nasional.
"Dampak dari perang Iran, Israel dan keterlibatan Amerika ini perlu diseriusin untuk diamati oleh pemerintah. Yaitu berdampak kepada harga minyak dunia dan itu akan berpengaruh kepada biaya distribusi dan juga biaya produksi pangan kita," kata Johan dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Johan mengingatkan bahwa meskipun pemerintah mengklaim ketersediaan stok pangan mencukupi selama Ramadan, persoalan di lapangan tidak hanya soal jumlah pasokan, tetapi juga distribusi dan stabilitas harga.
"Ini kalau tidak diantisipasi, walaupun kita punya stok banyak, itu kan klaim pemerintah di awal Ramadan, cukup stok untuk dalam situ. Tapi persoalannya kan terjadi lonjakan harga di pasar-pasar. Salah satu sebabnya adalah tidak meratanya distribusi kita," ujarnya.
Menurut dia, kenaikan harga minyak akan memperbesar biaya logistik dan berpotensi menghambat penyaluran bahan pangan ke berbagai daerah.
Kondisi ini jika tidak diantisipasi sejak dini, dapat memperburuk disparitas harga antarwilayah.
“Nah dengan meningkatnya harga minyak, maka juga ini akan nanti berdampak kepada terhambatnya distribusi kita. Dengan meningkatnya biaya distribusi itu. Nah karena ini harus diantisipasi secara cepat, jangan reaktif," pesannya.
Johan menekankan pentingnya memperkuat produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Ia menilai kebijakan kedaulatan pangan harus ditempatkan sebagai bagian integral dari ketahanan nasional.
“Ini sekaligus alarm kepada kita, agar tetap konsern kepada produksi dalam negeri, jangan tergantung impor. Agar kebijakan kedaulatan pangan kita itu harus masuk di dalam satu tatanan ketahanan nasional," katanya menegaskan.
Komisi IV DPR RI, kata dia, akan terus mendorong langkah antisipatif pemerintah agar gejolak global tidak berujung pada tekanan berat bagi petani maupun konsumen di dalam negeri
Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































