Komisi XIII: Literasi dan daya kritis penting saat tsunami informasi

3 hours ago 2
"Impresi sering kali lebih dominan dibandingkan nalar. Padahal, yang kita butuhkan hari ini adalah malar kritis dan akal sehat agar tidak mudah terjebak pada hoaks,"

Jakarta (ANTARA) - Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya menegaskan pentingnya literasi dan kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi yang kian tak terbendung.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional dan Kelas Literasi bersama Forum Mahasiswa Madura (FORMAD) Jabodetabek yang digelar di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (6/2).

Willy dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu menilai masyarakat saat ini tidak lagi sekadar menghadapi banjir informasi, melainkan sudah berada dalam situasi "tsunami informasi" yang berpotensi menggerus daya kritis publik.

Menurutnya, melimpahnya informasi tidak selalu diiringi dengan kemampuan memilah dan menguji kebenaran sehingga banyak orang dengan mudah menelan informasi mentah berbasis impresi semata.

"Impresi sering kali lebih dominan dibandingkan nalar. Padahal, yang kita butuhkan hari ini adalah malar kritis dan akal sehat agar tidak mudah terjebak pada hoaks," ujar Willy.

Ketua Koordinator Ideologi Organisasi dan Kaderisasi DPP Partai NasDem itu menekankan bahwa Partai NasDem sejak awal berdiri membawa pesan untuk merawat akal sehat, sebagaimana amanat Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh.

Pesan tersebut, lanjut Willy, kembali ditegaskan oleh Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI Victor Laiskodat bahwa di tengah inflasi informasi, akal sehat dan common sense menjadi fondasi utama dalam berdemokrasi.

Dalam kegiatan tersebut, Fraksi NasDem juga menghadirkan kelas literasi yang tidak hanya membahas berpikir kritis, tetapi juga membekali mahasiswa dengan soft skill menulis ilmiah dan menulis populer.

Willy menyebut keterampilan menulis penting sebagai bentuk korespondensi antara realitas sosial, ilmu pengetahuan, dan informasi yang beredar di ruang publik.

"Menulis itu soal kebiasaan. Mahasiswa perlu dilatih agar mampu mengolah fakta, data, teori, dan logika berpikir secara utuh, apalagi di ujung pendidikan mereka akan menghadapi tugas ilmiah seperti skripsi," ungkapnya.

Willy menegaskan kegiatan literasi tersebut merupakan langkah awal dan Fraksi NasDem membuka diri untuk kolaborasi lanjutan dengan mahasiswa dari berbagai daerah.

Ia menyebut partainya sebagai partai yang terbuka terhadap kritik, aspirasi, bahkan perbedaan pandangan, sebagai konsekuensi logis dari jabatan publik.

"NasDem terbuka. Mahasiswa bisa datang, menyampaikan kritik, aspirasi, bahkan perbedaan sikap soal kebijakan. Justru itu yang kami harapkan dalam demokrasi," tutur Willy.

Ia juga mengingatkan bahwa gelar akademik tidak otomatis melahirkan kemampuan berpikir kritis. Menurutnya, berpikir kritis membutuhkan latihan, keberanian bertanya serta konsistensi dalam memverifikasi informasi sebagaimana prinsip 5W+1H dalam kerja jurnalistik.

"Critical thinking itu proses ketat. Kita harus bertanya siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana. Tanpa itu, hoaks akan lebih cepat dipercaya daripada fakta," ucapnya.

Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |