Jakarta (ANTARA) - Ketua Komisi III DPR RI Saleh Partaonan Daulay meminta kepada Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk menciptakan inovasi-inovasi baru untuk turut memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Menurut dia, dampak dari situasi global yang saat ini terjadi jangan sampai membuat orang-orang yang punya uang dalam dunia usaha, justru berbalik mengambil uang dan membeli dolar AS yang menyebabkan dolar AS menjadi langka.
"Akibatnya yang terjadi adalah kenaikan kurs dolar. Dan itu apakah aman untuk Indonesia atau tidak, tentu akan bisa dijawab oleh Pak Menteri," kata Saleh saat menggelar rapat kerja bersama Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di kompleks parlemen, Jakarta, Senin.
Baca juga: Komisi VII DPR minta pemerintah optimalkan UMKM atasi goncangan global
Dia mengatakan bahwa Kemenperin bisa mengembangkan peta jalan untuk upaya-upaya pengembangan sektor perindustrian ke depannya. Karena bagaimanapun, menurut dia, sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang sektor industrinya maju.
"Indonesia kan harus mengarah pada itu (kemajuan industri). Dan karena itu mungkin nanti Pak Menteri bisa terangkan kepada kami hal-hal seperti itu sehingga kita juga bisa memperkuat basis ekonomi kita dari sisi industri," katanya.
Selain itu, dia mengatakan bahwa Komisi VII DPR juga mendorong agar alokasi anggaran yang dimiliki Kemenperin bisa menciptakan industri baru dan inovasi-inovasi baru dalam sektor industri.
Sejauh ini, dia menilai bahwa proporsi anggaran Kemenperin itu paling besar dialokasikan untuk Politeknik Perindustrian. Namun, dia menilai bahwa hal itu tidak secara langsung bersambung dengan penciptaan industri baru, melainkan hanya menyiapkan sumber daya manusia.
"Walaupun itu sangat-sangat sangat penting, tetapi tentu ini harus ditunjang dengan anggaran-anggaran lain di kedirjenan yang lain," kata dia.
Baca juga: Rupiah pada Senin pagi melemah jadi Rp18.107 per dolar AS
Baca juga: Menteri Keuangan: Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1997-1998
Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































