Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat memperkuat toleransi, kebersamaan, dan harmoni antarumat beragama melalui Indonesia Walk for Peace 2026 yang diikuti 57 biksu lintas negara.
"Selamat datang di Jawa Timur, Bumi Majapahit, bumi yang mengenalkan Bhinneka Tunggal Ika, bahwa kita berbeda-beda tetapi kita satu dalam mewujudkan harmoni antarmanusia," kata Khofifah saat menyambut rombongan biksu peserta Indonesia Walk for Peace 2026 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat.
Khofifah mengatakan perjalanan spiritual para biksu membawa pesan universal tentang pentingnya perdamaian dan kebahagiaan di tengah kondisi global saat ini.
"Saya ingin mengajak kepada kita semua dari Grahadi ini kita terus menyuarakan perdamaian dan kebahagiaan, Bhante tadi menyampaikan berapa kali pentingnya kehidupan yang bahagia. Dan itulah yang kita butuhkan saat ini,” ujarnya.
Rombongan Indonesia Walk for Peace 2026 terdiri atas 57 biksu dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia yang menempuh perjalanan sekitar 666 kilometer dengan berjalan kaki membawa pesan perdamaian dunia.
Baca juga: Apa saja tugas seorang biksu Budha? Ini jawabannya
Menurut Khofifah, perjalanan tersebut bukan sekadar lintasan geografis, melainkan perjalanan nilai yang menghubungkan kemanusiaan dalam semangat perdamaian.
"Pesan ini adalah pesan universal, menurut saya ini sesuatu yang harus terus diingatkan lagi kepada dunia bahwa perdamaian itu sesuatu yang dibutuhkan oleh kehidupan umat manusia dari suku apapun, agama apapun, di daerah manapun mereka butuh kehidupan yang damai," katanya.
Khofifah berharap momentum tersebut dapat memperkuat toleransi, kebersamaan, dan harmoni antarumat beragama di Jawa Timur maupun Indonesia.
"Saya rasa pada saatnya resonansi itu akan didengar dan kemudian diikuti karena suara perdamaian ini suara universal yang disuarakan oleh sangat banyak komunitas dan kali ini 57 Bhante menyampaikan pesan itu, walk for peace," ucapnya.
Kepala rombongan biksu Bhante Phra Phanarin Oaksonthip mengaku senang tiba di Surabaya pada hari ketujuh perjalanan spiritual mereka.
"Kami bahagia sekali karena selama perjalanan dari Bali hawanya panas tapi saat sampai di Surabaya rasanya adem (dingin) karena banyak pohonnya. Terima kasih atas penyambutannya yang hangat yang diberikan pemerintah, aparat dan masyarakat," kata Bhante Phra Phanarin.
Baca juga: Para biksu ambil air berkah di Jumprit untuk Waisak di Borobudur
Baca juga: Wamenag apresiasi IWFP wujudkan nilai toleransi
Pewarta: Willi Irawan
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































