Kenapa makan ubi bikin kentut? Ini penyebabnya menurut ahli gizi

4 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Makan ubi sering dikaitkan dengan meningkatnya frekuensi buang angin atau kentut. Anggapan tersebut ternyata memiliki dasar ilmiah dan berkaitan dengan proses pencernaan karbohidrat kompleks serta serat yang terkandung dalam ubi.

Ubi jalar mengandung karbohidrat kompleks, serat, serta oligosakarida seperti raffinose dan stakiosa. Senyawa tersebut tidak dapat dicerna sepenuhnya di usus halus sehingga akan difermentasi oleh bakteri di usus besar dan menghasilkan gas seperti hidrogen, karbon dioksida, serta metana.

Meski dapat memicu produksi gas pada sebagian orang, ubi tetap merupakan salah satu sumber karbohidrat yang kaya nutrisi dan memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai.

Mengapa ubi bisa menyebabkan kentut?

Dosen Bidang Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB University), Annisa Rizkiriani, SGz, MSi, menjelaskan bahwa ubi mengandung oligosakarida yang tidak dapat dipecah oleh enzim pencernaan di saluran cerna bagian atas. Akibatnya, senyawa tersebut masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri usus hingga menghasilkan gas.

Selain oligosakarida, kandungan serat pada ubi juga berperan dalam proses fermentasi. Semakin aktif proses tersebut, semakin banyak gas yang dapat terbentuk di saluran pencernaan.

Tidak semua orang akan mengalaminya

Reaksi tubuh setelah makan ubi dapat berbeda pada setiap orang. Ada yang mengalami kentut lebih sering, sementara sebagian lainnya tidak merasakan perubahan berarti.

Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kondisi mikrobiota usus, jumlah ubi yang dikonsumsi, cara pengolahan, serta kemampuan sistem pencernaan masing-masing individu dalam mengolah makanan.

Baca juga: BRIN: Ubi berpotensi jadi sumber pendapatan dan pangan berkelanjutan

Manfaat ubi

Meski dapat memicu gas, ubi merupakan makanan bergizi yang mengandung berbagai zat penting, antara lain:

  • Karbohidrat kompleks sebagai sumber energi.
  • Serat yang membantu menjaga kesehatan pencernaan.
  • Beta-karoten yang diubah menjadi vitamin A dalam tubuh, terutama pada ubi berwarna oranye.
  • Vitamin C.
  • Kalium.
  • Vitamin B6.
  • Antioksidan alami.

Kandungan tersebut membuat ubi tetap menjadi pilihan makanan yang baik untuk dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang.

Baca juga: Resep membuat ubi creme brulee, dessert manis yang lembut dan renyah

Cara mengurangi kentut setelah makan ubi

Bagi orang yang mudah mengalami perut kembung atau sering kentut setelah makan ubi, beberapa cara berikut dapat membantu mengurangi keluhan:

  • Konsumsi ubi dalam porsi sedang, jangan berlebihan.
  • Tingkatkan konsumsi ubi secara bertahap agar saluran cerna dapat beradaptasi.
  • Kunyah makanan hingga halus sebelum ditelan.
  • Minum air putih yang cukup.
  • Padukan ubi dengan sumber protein atau sayuran agar pola makan lebih seimbang.

Apakah kentut setelah makan ubi berbahaya?

Pada umumnya, kentut setelah mengonsumsi ubi bukanlah tanda penyakit. Buang gas merupakan proses alami tubuh untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi makanan di dalam usus.

Namun, apabila keluhan disertai nyeri perut hebat, diare berkepanjangan, muntah, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Dengan demikian, anggapan bahwa makan ubi dapat membuat seseorang lebih sering kentut memang benar secara ilmiah. Kondisi tersebut dipicu oleh proses fermentasi karbohidrat kompleks dan serat di usus besar, tetapi umumnya merupakan bagian normal dari sistem pencernaan dan tidak perlu dikhawatirkan.

Baca juga: Perluas produksi, Sumedang kembangkan ubi Cilembu via kultur jaringan

Baca juga: Cara konsumsi ubi jalar agar vitamin A dapat terserap optimal

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |