Kemenkes: CKG & inovasi mampu kurangi emisi karbon dari terapi ginjal

5 hours ago 4
Dari data-data tadi, bahwa memang deteksi dini di tingkat primer itu sangat diperlukan untuk mencegah tadi angka-angka yang tadi saya sampaikan itu

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan skrining seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan inovasi terapi ginjal dapat mengurangi kebutuhan dialisis, sehingga menekan ketergantungan pada penggunaan sumber daya lingkungan serta menurunkan emisi dari dialisis.

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni menyoroti tema Hari Ginjal Sedunia 2026 yakni "Peduli Terhadap Manusia, Lindungi Planet" (Caring for People, Protecting the Planet).

Menurut Indonesian Renal Registry, ada sekitar 200.000 pasien gagal ginjal yang membutuhkan hemodialisis 2-3 kali seminggu. Kemudian, kata dia, data The American Society of Nephrology 2020 menunjukkan bahwa satu kali hemodialisis memproduksi setara 58,9 kilogram CO².

"Dari data-data tadi, bahwa memang deteksi dini di tingkat primer itu sangat diperlukan untuk mencegah tadi angka-angka yang tadi saya sampaikan itu," kata Andi di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Menjaga kesehatan ginjal di bulan puasa dengan cukup minum air

Selain beban emisi, Andi menyoroti beban pembiayaan akibat penyakit katastropik seperti sakit ginjal. Pada 2025 sekitar Rp193 triliun dikucurkan untuk Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dari nominal itu, 87,08 persennya untuk layanan tingkat lanjut, artinya sudah di rumah sakit.

Gagal ginjal, kata dia, adalah peringkat kedua beban pembiayaan terbesar JKN, setelah sakit jantung dan disusul kanker serta stroke.

"Memang harus memperkuat layanan dasar. Jadi kalau layanan dasar diperkuat, pasien-pasien belum masuk kepada late stage, tahapan lanjut, artinya nanti bahwa tidak hanya tadi saya berbicara secara angka bahwa beban pembiayaan besar, tetapi tentunya bahwa kita bisa menjaga kesehatan, umur panjang, angka-angkanya untuk penduduk Indonesia," ujarnya.

Oleh karena itu Presiden Prabowo Subianto menggencarkan CKG sebagai upaya mencegah penyakit katastropik, seperti gagal ginjal. CKG, kata dia, yang dijalankan di puskesmas, sejalan dengan target penguatan layanan dasar.

Baca juga: Program PKG diminta prioritaskan cek gula darah pada usia muda

Untuk memperkuat tata laksana, lanjut Andi, pemerintah juga mempercepat pembangunan 66 Rumah Sakit (RS) dengan fasilitas lengkap di daerah-daerah. RS-RS itu, katanya, dilengkapi dengan fasilitas untuk menangani empat penyakit penyebab kematian terbesar di Indonesia.

Pihaknya juga berupaya untuk mengejar pemerataan spesialis urologi agar layanan semalin merata, karena saat ini spesialis terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak, seperti dari media, universitas, ahli, dan komunitas, begitu penting untuk mengedukasi publik tentang kesehatan ginjal dan cara menjaganya.

"Pada momentum Hari Kesehatan Ginjal Sedunia, kami mengajak komitmen dari berbagai pemangku kepentingan, pemerintah, sekali lagi pemerintah, mitra pembangunan global, akademisi, industri, masyarakat, dan seluruh pihak untuk bersama membangun masa depan kesehatan ginjal yang berkelanjutan," kata Andi Saguni.

Baca juga: Kemenkes: Belanja asuransi kesehatan mesti seimbang antara FKTP dan RS

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |