Kemenhut evakuasi orangutan dalam kondisi lemah diduga terpapar asap

3 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) telah mengevakuasi satu individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) dalam kondisi lemah diduga karena paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dekat kebun sawit masyarakat Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Dalam keterangan resmi Kemenhut diterima di Jakarta, Senin, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane menyampaikan kondisi kebakaran di sekitar habitat dan ruang jelajah satwa perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pergerakan serta kondisi satwa liar.

"Kebakaran tidak hanya berdampak terhadap tutupan lahan, tetapi juga berpotensi memberikan tekanan terhadap satwa liar yang berada di sekitarnya. Karena itu, pemantauan terhadap pergerakan satwa di wilayah terdampak juga penting dilakukan. Kami mengapresiasi laporan masyarakat dan kerja sama seluruh pihak sehingga orangutan ini dapat segera mendapatkan pertolongan," kata Murlan.

Dia menjelaskan bahwa evakuasi itu dilakukan BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengevakuasi satu individu orangutan jantan dewasa yang ditemukan dalam kondisi lemah di kebun sawit masyarakat di Dusun 1 Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang pada Minggu (30/8).

Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi KSDA Wilayah I BKSDA Kalimantan Barat menerima laporan mengenai keberadaan orangutan tersebut pada pukul 07.27 WIB. Menindaklanjuti laporan tersebut, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera menurunkan tim untuk melakukan penyelamatan.

Orangutan tersebut sebelumnya telah termonitor oleh tim Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI pada 16 Agustus 2026 di sekitar lokasi penyelamatan, namun orangutan itu masih berpindah pindah secara aktif. Saat kembali ditemukan pada Minggu pagi, orangutan berada dalam kondisi lemah di area kebun sawit masyarakat.

Sekitar pukul 09.13 WIB, tim melakukan pembiusan secara terukur agar pemeriksaan dan proses evakuasi dapat dilakukan dengan aman. Dokter hewan YIARI selanjutnya melakukan pemeriksaan kesehatan dan memberikan penanganan awal berupa pemberian oksigen serta cairan melalui infus.

Tim medis juga mengambil sampel darah, feses, dan rambut untuk mendukung pemeriksaan lebih lanjut. Selain itu, dilakukan pemasangan microchip sebagai bagian dari identifikasi dan pemantauan individu orangutan.

Pada saat proses penyelamatan berlangsung, kawasan berhutan di sekitar kebun sawit masyarakat Desa Kuala Satong diketahui sedang mengalami kebakaran yang menimbulkan asap. Tim di lapangan juga tidak menemukan sumber air di sekitar titik ditemukannya orangutan.

Berdasarkan pengamatan awal, jelasnya, kondisi lemah orangutan diduga berkaitan dengan paparan asap dan kekurangan cairan. Namun demikian, pemeriksaan medis lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan kondisi kesehatan serta penyebab yang dialami orangutan tersebut.

Dia memastikan bahwa setelah efek pembiusan berangsur hilang dan kondisi orangutan dinilai memungkinkan untuk dipindahkan, tim segera mengevakuasinya ke pusat rehabilitasi YIARI untuk mendapatkan observasi dan penanganan medis lebih lanjut.

Terkait hal itu, Kemenhut mengimbau masyarakat yang menemukan orangutan atau satwa liar lainnya di sekitar permukiman, perkebunan, maupun wilayah terdampak kebakaran untuk tidak melakukan penanganan sendiri.

Masyarakat diminta menjaga jarak, tidak mengganggu atau memberi makan satwa, serta segera melaporkan keberadaannya kepada BKSDA atau petugas kehutanan setempat.

Baca juga: Kemenhut translokasi tiga orang utan Kalbar mitigasi dampak kemarau

Baca juga: Menhut instruksikan patroli cegah karhutla di habitat orangutan Kaltim

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |