Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan digitalisasi pembelajaran melalui penyaluran IFP membantu murid dengan status anak berkebutuhan khusus (ABK) merasakan pengalaman belajar dengan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) yang mengakomodasi hambatan mereka.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Senin, mengatakan penyaluran Interactive Flat Panel (IFP) merupakan upaya Kemendikdasmen dalam memastikan kegiatan belajar mengajar di tiap ruang kelas berlangsung layak, aman, dan nyaman dengan bantuan akses teknologi yang lebih memadai, termasuk pada sekolah luar biasa (SLB).
Bagi murid dengan hambatan penglihatan, IFP membuka lebih banyak kesempatan untuk mengakses materi melalui audio, video, hingga tampilan yang dapat diperbesar bagi siswa low vision.
Baca juga: Kemendikdasmen: IFP beri pengalaman mengajar berkesan
Guru Kelas Hambatan Penglihatan SLB YPPC Banda Aceh Novi Widiastuti merasakan perubahan yang signifikan sejak menggunakan perangkat tersebut.
“IFP sangat membantu pembelajaran, terutama bagi murid tunanetra yang mengandalkan informasi melalui audiovisual. Anak-anak menjadi lebih semangat, antusias, dan rasa ingin tahunya meningkat, karena pembelajaran tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga melalui media yang bisa disesuaikan dengan kemampuan penglihatan masing-masing,” ujar Novi.
Sebelumnya, Novi lebih bergantung pada buku braille, speaker, dan laptop dengan pengulangan materi yang cukup sering, kini ia memiliki lebih banyak pilihan media.
“Saya bisa memperbesar huruf dan gambar untuk murid low vision, sementara murid tunanetra dapat belajar melalui narasi, audio, video, serta materi yang dipadukan dengan huruf braille. Pembelajaran menjadi jauh lebih interaktif dan membuat murid lebih percaya diri mengakses materi,” imbuhnya.
Manfaat serupa juga dirasakan guru kelas IIIQ dari sekolah yang sama, Anggawinata yang menilai kombinasi gambar, video, suara, dan animasi membuat anak lebih mudah memahami materi dibandingkan pembelajaran konvensional.
“Anak autisme lebih mudah belajar lewat gambar dan suara. Dulu ada murid yang sulit fokus dan sering tantrum, tetapi ketika saya memutar video pembelajaran di IFP, ia bisa duduk tenang hingga selesai dan fokus memperhatikan layar. Perkembangannya luar biasa,” kata Anggawinata.
Ia menambahkan kemampuan IFP menghadirkan materi yang fleksibel membuat guru dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan setiap anak.
Baca juga: Mendikdasmen sebut IFP berdampak pada kualitas pembelajaran siswa
Baca juga: Wamendikdasmen: IFP bantu siswa pahami materi dan lebih siap ikut TKA
“Ada yang lebih mudah memahami gambar, ada yang lebih paham lewat video atau audio. Semuanya bisa disesuaikan, sehingga belajar tidak lagi monoton. Anak-anak juga lebih aktif, karena dapat langsung berinteraksi melalui layar sentuh,” katanya.
Keduanya berharap semakin banyak unit IFP di setiap kelas untuk mengisi materi pembelajaran yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus.
Dengan demikian, lebih banyak murid dapat merasakan manfaat pembelajaran yang inklusif, menarik, dan sesuai dengan cara belajar mereka.
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































