Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama memperingati peringatan Tumpek Uye yang menjadi momentum suci bagi umat Hindu untuk memperkuat kesadaran spiritual dalam memuliakan hewan dan menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari dharma kehidupan.
“Tumpek Uye adalah momentum suci bagi umat Hindu yang diperingati setiap 210 hari sekali untuk memuliakan para hewan dan satwa yang tumbuh di atas bumi ini,” ujar Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat.
I Nengah menjelaskan peringatan Tumpek Uye kali ini mengusung tema Green Dharma Bakti Pertiwi untuk Nusantara Jaya.
Ia menjelaskan peringatan Tumpek Uye memiliki makna mendalam, mengingat manusia diajak untuk menyadari bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung kepada keseimbangan alam termasuk pelestarian satwa sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
“Sejumlah kegiatan ekoteologis dilakukan dalam peringatan Tumpek Uye. Kegiatan tersebut tidak hanya bersifat ritual keagamaan, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata pelestarian lingkungan,” kata dia.
Menurut Duija, Green Dharma sejalan dengan program Astacita Presiden Prabowo Subianto serta kebijakan Kementerian Agama dalam penguatan ekoteologi untuk mengakselerasi kesadaran spiritual umat terhadap lingkungan hidup.
“Green Dharma bukan sekadar ritual, tetapi aksi nyata umat Hindu dalam merawat alam semesta, sejalan dengan Gerakan Indonesia Asri yang dicanangkan Presiden,” katanya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, dilakukan aksi ekologis serentak secara nasional berupa penanaman pohon dan pelepasliaran satwa. Di Pura Gunung Salak, umat Hindu menanam 1.200 pohon dan melepasliarkan 700 ekor burung dari berbagai jenis.
Secara nasional, aksi serupa dilaksanakan seluruh provinsi dengan total capaian 14.580 pohon tertanam dan 4.690 satwa dilepasliarkan. Duija menegaskan aksi tersebut merupakan simbol bakti umat Hindu kepada alam semesta dan Ibu Pertiwi.
Selain itu, kegiatan juga dirangkai dengan penyerahan mesin pengolah sampah organik sebagai pilot project pengelolaan sampah di tempat ibadah, guna mendukung terwujudnya rumah ibadah yang ramah dan sehat.
Baca juga: Umat Hindu sembahyang dan mekemit Siwaratri di Pura Jagatnatha
Pada kesempatan yang sama, diluncurkan buku berjudul Ekoteologi Hindu: Dari Esoterik Menuju Eksoterik. Buku tersebut menegaskan bahwa ajaran Hindu memiliki fondasi ekologis yang kuat melalui konsep-konsep dasar seperti Rta dan Tri Hita Karana.
Kegiatan peringatan Tumpek Uye di Bogor diikuti sekitar 500 peserta yang berasal dari jajaran Bimas Hindu pusat dan daerah, penyuluh agama Hindu, akademisi, mahasiswa, serta lembaga keagamaan Hindu dari DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
Dirjen Bimas Hindu menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi menyukseskan kegiatan tersebut, termasuk pengelola Pura Gunung Salak, komunitas adat, TNI-Polri, pecalang, serta organisasi keumatan Hindu.
“Melalui peringatan Tumpek Uye ini, kami berharap umat Hindu semakin meneguhkan komitmen spiritual dan sosial dalam menjaga keharmonisan alam sebagai bagian dari pengabdian kepada bangsa dan negara,” kata Duija.
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































