Kelompok G7 bahas pelepasan cadangan minyak untuk jaga pasokan global

6 hours ago 1

Tokyo (ANTARA) - Para menteri keuangan dari negara-negara Kelompok Tujuh (G7) membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi dalam pertemuan daring, Senin (9/3) yang juga melibatkan Badan Energi Internasional (IEA), di tengah lonjakan harga minyak akibat penyerbuan bersama Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

“Kami sepakat mengambil langkah-langkah guna mendukung pasokan energi global dan langkah lain yang diperlukan,” kata Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama kepada wartawan usai pertemuan tersebut.

Ia menambahkan bahwa IEA menyerukan agar upaya menuju pelepasan bersama cadangan minyak segera dilakukan.

Ia juga mengatakan bahwa para menteri energi G7 akan mengadakan pembicaraan dalam waktu dekat untuk membahas rincian kemungkinan pelepasan cadangan minyak tersebut.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, yang turut berpartisipasi dalam pertemuan para menteri keuangan G7, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kondisi pasar minyak global “memburuk dalam beberapa hari terakhir,” dengan mengutip berkurangnya produksi minyak serta tantangan dalam jalur transit melalui Selat Hormuz.

“Hal ini menciptakan risiko yang signifikan dan terus meningkat bagi pasar. Kami membahas semua opsi yang tersedia, termasuk menyediakan cadangan minyak darurat IEA ke pasar,” katanya dalam pernyataan tersebut.

Menurut IEA, negara-negara anggota saat ini memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik, dengan tambahan sekitar 600 juta barel cadangan industri yang disimpan berdasarkan kewajiban pemerintah.

AS dan Jepang bersama-sama memiliki sekitar 700 juta barel dari total cadangan minyak publik tersebut.

Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure dilaporkan mengatakan usai pertemuan bahwa anggota G7 belum mengambil keputusan mengenai kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat.

Dalam beberapa tahun terakhir, pelepasan cadangan minyak yang dikoordinasikan oleh IEA pernah dilakukan pada 2022 untuk menjaga stabilitas pasar minyak setelah Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina.

Financial Times, yang pertama kali melaporkan pembahasan G7 sebelum pertemuan berlangsung, menyebutkan bahwa AS termasuk di antara sejumlah negara yang menyatakan dukungan terhadap pelepasan cadangan minyak secara bersama.

Surat kabar tersebut juga melaporkan bahwa sejumlah pejabat AS menilai pelepasan bersama dalam kisaran 300 juta hingga 400 juta barel, atau sekitar 25 hingga 30 persen dari total cadangan 1,2 miliar barel, dapat menjadi langkah yang tepat, dengan koran tersebut mengutip sumber yang meminta namanya dirahasiakan.

G7 (Group of Seven) terdiri dari tujuh negara dengan ekonomi maju utama di dunia, terdiri atas AS, Inggris Raya, Italia, Jepang, Jerman, Kanada dan Prancis.

Kelompok ini berfokus pada isu ekonomi global, keamanan, dan energi, serta didukung oleh Uni Eropa sebagai anggota non-enumerasi.

Sebagai anggota non-enumerasi, Uni Eropa adalah mitra yang aktif didukung dan mendukung, namun status formalnya berbeda dari negara anggota yang terdaftar di dalam daftar utama (enumerasi) G7.

Sumber: Kyodo-OANA

Penerjemah: Primayanti
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |