KBRI Beijing ingin perbanyak mahasiswa Indonesia belajar STEM di Hunan

2 hours ago 1

Changsha (ANTARA) - Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun mendorong peluang lebih banyak mahasiswa Indonesia untuk belajar bidang ilmu pengetahuan, teknologi, rekayasa dan matematika (STEM) di Provinsi Hunan, khususnya di Central South University (CSU).

"Saya senang dapat bertemu dan berbicara langsung dengan pihak dari Central South University, karena CSU punya reputasi yang sangat baik, termasuk dalam bidang teknik metalurgi, material maju, transportasi, dan kedokteran," kata Djauhari di Changsha, Hunan, Senin (9/3).

Dubes Djauhari menyampaikan hal tersebut saat bertemu dengan Ketua Dewan Universitas CSU An Shi dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Changsha.

CSU merupakan universitas afiliasi yang didanai oleh Pemerintah China dan berdiri pada 2020 dengan menggabungkan tiga lembaga pendidikan tinggi, yakni Hainan Medical University (HMU), Changsa Railway University (CRU), dan Central South University of Technology (CSUT).

"Program-program yang ditawarkan CSU juga sangat terkait dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia dan sejalan dengan prioritas pembangunan Indonesia saat ini, khususnya hilirisasi termasuk dengan mengirimkan pegawai pemerintah muda bidang STEM untuk belajar di CSU," tambahnya.

Dia menilai ke depannya ada potensi besar untuk memperluas kerja sama antara CSU dan Indonesia pada, terutama dengan adanya tren kehadiran mahasiswa Indonesia untuk belajar di China semakin besar.

"Saat ini, mahasiswa Indonesia yang belajar di China sudah mencapai 20.000 orang. Saya yakin jumlah mahasiswa Indonesia di CSU juga akan meningkat pada masa mendatang, terlebih pemerintah saat ini memerlukan peningkatan talenta di bidang STEM," ungkap Dubes Djauhari.

Baca juga: Pembangunan ekonomi & lingkungan China di mata mahasiswa Indonesia

Sementara itu, Ketua Dewan Universitas CSU An Shi mengatakan universitas yang merupakan hasil penggabungan tiga kampus besar itu memiliki sekitar 36.000 mahasiswa sarjana secara keseluruhan dan 26.000 mahasiswa pascasarjana; di mana di antara jumlah tersebut terdapat 2.200 orang mahasiswa internasional.

"Universitas kami unggul dalam bidang pengembangan dan pemanfaatan sumber daya mineral serta teknologi metalurgi, serta memiliki sistem penelitian dan fasilitas transportasi rel yang berada di garis depan dan juga menjadi salah satu pusat asal-usul kedokteran modern di China, yaitu Xiangya School of Medicine," kata An Shi.

An Shi menjelaskan bahwa dalam Soft Science Ranking 2025, program studi (prodi) pertambangan di CSU menempati peringkat satu dunia, prodi metalurgi di peringkat kedua, dan prodi teknik mesin juga masuk jajaran teratas.

Kemudian, secara nasional, prodi, seperti mineral processing, metalurgi, teknik pertambangan, dan material science, masuk peringkat A+ atau 10 besar nasional.

"Dalam daftar ilmuwan paling berpengaruh dunia, yang disusun oleh Universitas Stanford untuk memilih dua persen ilmuwan terbaik di dunia, terdapat 534 dosen dari CSU. Itu menempatkan universitas ini pada posisi ketujuh di China daratan. Hal ini juga menunjukkan bahwa tingkat kualitas tenaga pengajar universitas ini berada pada tingkat yang sangat tinggi," jelas An Shi.

Baca juga: KBRI Beijing manfaatkan peningkatan jumlah pelajar Indonesia di China

Salah satu mahasiswa Indonesia yang berkuliah di CSU adalah M. Apriansyah, yang sedang menempuh studi master bidang energi terbarukan.

"Saya berharap dapat memperoleh banyak pembelajaran saat bersekolah di CSU ini, sehingga kita dapat terus maju lebih jauh dalam bidang teknologi dan inovasi, sehingga saat kembali ke Indonesia dapat lebih berkontribusi," kata Apriansyah dalam bahasa Mandarin yang lancar.

Apriansyah menempuh pendidikan D3 di China, yaitu di Provinsi Guangxi. Dia kemudian melanjutkan pendidikan sarjana di Beijing dan pendidikan pasca-sarjana di Changsha.

"Pada saat yang sama, saya juga berharap dapat menjadi penghubung antara Indonesia dan China, sehingga ke depan saya harap bisa berkolaborasi lebih lain," ujarnya.

Indonesia diketahui merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Hunan di kawasan Asia Tenggara. Nilai perdagangan antara Indonesia dan Hunan pada 2025 mencapai 3,23 miliar dolar AS.

Pendorong utama pertumbuhan perdagangan tersebut adalah ekspor produk "tiga baru" dari Hunan ke Indonesia, yang meliputi kendaraan listrik, baterai lithium-ion dan produk fotovoltaik (panel surya).

Dalam sebelas bulan pertama 2025, ekspor produk-produk tersebut dari Hunan ke Indonesia melonjak hingga 724 persen.

Baca juga: China Catat Jumlah Pelajar Kembali dari Luar Negeri Naik pada 2024

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |