Juru damai Poso Ustad Adnan Arsal tutup usia

4 hours ago 3

Palu (ANTARA) -

Tokoh agama Islam KH Muhammad Adnan Arsal atau Ustad Adnan Arsal meninggal dunia pada Jumat sekitar pukul 18.30 WIB di Poso, Sulawesi Tengah.

“Innalillahi wainnailaihi ilaihi Raji'un, dengan izin Allah dan pulang dengan tenang telah kembali menuju Rabb Nya ayahanda, orang tua dan guru kita KH Muhammad Adnan Arsal,” kata Ketua Yayasan Wakaf Amanatul Ummah (YWAU) Poso Yusrin Ichtiawan.

Dia juga mengucapkan jazakumullah khairan atas semua doa dan dukungan para pihak, selama Ustad Adnan dalam perawatan dikarenakan sakit.

Ustad Adnan dikenal sebagai juru damai dalam konflik Poso. Kisah perjuangannya diabadikan dalam buku berjudul "Muhammad Adnan Arsal: Panglima Damai Poso" karya Khoirul Anam yang diterbitkan tahun 2021.

Pascakonflik, Ustad Adnan mendirikan YWAU di tahun 2001, sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan sosial yang berpusat di Kayamanya, Poso, Sulawesi Tengah. Yayasan itu berfokus pada pendidikan Islam, sosial kemanusiaan, serta pemberdayaan ekonomi umat dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jama'ah

Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang tokoh agama. Bagi masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya Poso, ia adalah penenun harapan di tengah koyaknya kemanusiaan. Namanya telah lama hidup dalam ingatan kolektif sebagai sosok yang memilih jalan damai di saat banyak orang terjebak dalam lingkaran kekerasan.

Ia pernah diberi julukan “panglima”. Namun, panglima dalam dirinya bukanlah tentang perang. Justru sebaliknya, ia berdiri di garis yang berbeda, menolak menjadikan kekerasan sebagai jalan keluar.

“Perang tak akan usai dengan ayunan parang, tetapi harus diselesaikan melalui dialog dengan hati yang lapang,” begitu salah satu pesan yang terekam dalam buku tersebut.

Di tengah bara konflik Poso yang berkepanjangan, Poso pernah menjadi saksi bagaimana manusia saling berhadapan dalam luka dan amarah. Namun, di tengah situasi itu pula, Ustad Adnan memilih menjadi salah satu jembatan, menghubungkan yang terputus, meredakan yang membara.

Ia tidak memimpin orang untuk menyerang. Jika pun ada perlawanan, itu semata untuk bertahan. Selebihnya, ia mengajak duduk bersama, membuka ruang dialog, dan mencari jalan keluar yang manusiawi.

“Konflik ini bikin kita semua lelah, frustrasi, habis semua,” pernah ia ungkapkan, menggambarkan betapa mahal harga yang harus dibayar dari sebuah pertikaian.

Karena itu, ia tak pernah lelah menyerukan satu hal sederhana, namun sering diabaikan: dialog.

“Utamakan dialog. Konflik di masyarakat pasti bisa didialogkan. Selesaikan semuanya dengan damai, tak perlu lakukan kekerasan. Itu tidak akan menyelesaikan konflik,” pesannya.

Kini, suara itu telah diam. Namun jejaknya tetap hidup dalam ingatan, dalam nilai, dan dalam harapan akan Poso yang terus menjaga damai.

Baca juga: FKUB Sulteng: Damai adalah pesan inti semua agama

Baca juga: Satgas Madago Raya Sulteng gencarkan upaya deradikalisasi di Poso

Pewarta: Fauzi
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |