Tokyo (ANTARA) - Jepang dan Filipina diperkirakan akan mengumumkan niat mereka untuk memulai negosiasi formal guna menyepakati pakta berbagi intelijen keamanan, sebagai langkah terbaru untuk memperkuat kerja sama di tengah kekhawatiran bersama terhadap aktivitas militer China.
Dalam pertemuan di Tokyo, Kamis, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. juga dijadwalkan menyepakati peningkatan hubungan bilateral menjadi "kemitraan strategis komprehensif", demikian menurut sejumlah sumber pemerintah Jepang.
Kemitraan tersebut dianggap sebagai tingkat hubungan bilateral tertinggi kedua setelah aliansi. Jepang sebelumnya telah menjalin kemitraan serupa dengan beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Vietnam, dan Laos.
Takaichi dan Marcos dijadwalkan menggelar konferensi pers bersama setelah pertemuan itu serta menyampaikan pernyataan bersama, kata sumber tersebut.
Jepang dan Filipina, yang sama-sama sekutu dekat Amerika Serikat, dalam beberapa tahun terakhir terus meningkatkan kolaborasi keamanan, seiring semakin menguatnya visi Indo-Pasifik bebas dan terbuka, yang didorong Tokyo di tengah meningkatnya ketegasan maritim China di kawasan.
Beijing mengeklaim Kepulauan Senkaku yang dikuasai Tokyo di Laut China Timur, sekaligus mengeklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, tempat kapal penjaga pantai China disebut melakukan tindakan agresif terhadap kapal Filipina di dekat wilayah sengketa.
Pakta intelijen yang direncanakan Jepang dan Filipina dikenal sebagai General Security of Military Information Agreement (GSOMIA), yang mewajibkan kedua negara melindungi rahasia militer yang dibagikan agar tidak bocor. Jepang telah memiliki perjanjian bilateral serupa dengan Australia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
Sebelumnya pada Januari lalu, Tokyo dan Manila menandatangani pakta acquisition and cross-servicing untuk mempermudah pembagian pasokan pertahanan.
Selain itu, reciprocal access agreement yang memungkinkan pengerahan pasukan lebih cepat untuk latihan bersama dan operasi bantuan bencana mulai berlaku sejak September tahun lalu.
Filipina juga menjadi negara penerima program bantuan keamanan resmi Jepang yang menyediakan peralatan pertahanan bagi negara-negara mitra sehaluan sejak diluncurkan pada tahun fiskal 2023.
Kedua negara, yang sama-sama sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, juga menghadapi tantangan serupa dalam menjaga pasokan energi di tengah gangguan global sejak konflik AS-Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari.
Kunjungan Marcos ke Jepang selama empat hari hingga Jumat (29/5) sebagai tamu kenegaraan berlangsung di saat Tokyo dan Manila memperingati 70 tahun normalisasi hubungan diplomatik tahun ini.
Menjelang pertemuan puncak dengan Takaichi, Marcos menyampaikan pidato di hadapan parlemen Jepang dan mengatakan kedua negara "tetap teguh dalam komitmen untuk menegakkan hukum internasional" di kawasan Indo-Pasifik yang semakin kompleks, di mana ketegangan menguji ketahanan tatanan berbasis aturan.
"Mari kita berupaya menjadi contoh kolaborasi strategis yang menginspirasi jalan menuju perdamaian, berbagi peluang demi kemakmuran bersama, dan memanfaatkan berbagai kemungkinan baru yang memberikan manfaat bagi negara, rakyat, dan kawasan Indo-Pasifik secara lebih luas," katanya.
Sumber: Kyodo
Baca juga: China soroti latihan militer gabungan Filipina-AS-Jepang di LCS
Baca juga: Jepang pertimbangkan ekspor rudal antikapal ke Filipina
Penerjemah: Primayanti
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































