Banda Aceh (ANTARA) - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Aceh beserta stakeholder lainnya mengawasi 24 jam jembatan bailey (darurat) Kutablang, Kabupaten Bireuen, Aceh untuk mencegah lintasan kendaraan yang bermuatan lebih dari 30 ton.
"Untuk upaya pengawasan kami sudah menginstruksikan penempatan personel kami di titik lokasi selama 24 jam penuh," kata Kepala BPTD Kelas II Aceh, Tofan Muis, di Banda Aceh, Kamis.
Pengawasan di lapangan sendiri berkolaborasi dengan berbagai instansi, yaitu BPTD Kelas II Aceh, kepolisian, TNI, Kementerian PUPR, serta pihak pelaksanaan dari PT Adhi Karya.
Sebelumnya, jembatan bailey di Desa Krueng Tingkeum Kecamatan Kutablang, Bireuen sebagai akses jalan nasional Banda Aceh-Medan ini baru beroperasi pada 27 Desember 2025, memiliki kapasitas beban maksimal 30 ton.
Kemarin, Rabu (14/1) siang, sempat ditutup sementara karena adanya perbaikan dua panel jembatan yang patah akibat dilintasi kendaraan melebihi beban, sehingga harus diganti kembali dengan panel baru.
Karena itu, Tofan mengatakan, saat ini petugas melakukan pengawasan ketat terhadap angkutan barang dengan menerapkan standardisasi teknis kendaraannya.
"Berat kendaraan maksimum 30 ton, tinggi maksimal empat meter dan konfigurasi kendaraan itu maksimum sumbu tiga, dan itu yang saat ini sedang berjalan di lapangan," ujarnya.
Dirinya menyampaikan, untuk kendaraan yang melebihi muatan, dilakukan identifikasi dini, seperti pemeriksaan jenis dan volume muatan.
Apabila kendaraan terindikasi melebihi kapasitas, maka diminta putar balik, atau melakukan langsiran dengan kata lain pemindahan muatan pada kendaraan yang lebih kecil sebelum diizinkan melintas.
Untuk proses langsiran atau pemindahan muatan ini dapat dilaksanakan pada terminal-terminal terdekat dengan lokasi jembatan, yaitu ada di Lhokseumawe dan Bireuen.
"Kita fasilitasi di sana (terminal) untuk bisa mereka melakukan langsir dengan pengalihan muatan," katanya.
Dirinya menuturkan, untuk lalu lintas di jembatan bailey Bireuen tersebut saat ini diterapkan sistem buka-tutup bergantian dari Banda Aceh - Medan maupun sebaliknya dengan durasi waktu sekitar 30 menit hingga satu jam, atau tergantung kepadatan dari kedua sisi.
"Jadi, kita melihat kondisi yang ada di lapangan, situasional saja, tetapi sistemnya bergantian," ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Tofan mengimbau kepada masyarakat yang melintas dapat menaati semua aturan yang telah ditetapkan demi kemanfaatan dan kepentingan bersama, bersabar hingga permasalahan ini selesai, kemungkinan sampai September 2026.
"Karena kondisi kita memang sudah terbatas, dan ini juga untuk menjaga agar pasokan logistik kita bisa berjalan. Maka, kami minta kesadaran masyarakat bersama-sama mengawasi dan menjaga jembatan kita. Semoga masalah ini segera teratasi cepat," demikian Tofan Muis.
Baca juga: TNI AD rampungkan pembangunan jembatan darurat di Baktiya Aceh Utara
Baca juga: Jembatan Bailey, solusi atas terputusnya akses antarwilayah
Baca juga: KSAD sebut jembatan bailey berhasil pulihkan akses darat di Aceh
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































