Jejak M.H Thamrin dalam perjalanan Jakarta menuju lima abad

12 hours ago 8
Pergi ke Monas untuk berwisata Sambil nonton lenong dengan gembira Selamat ulang tahun Jakarta tercinta Semoga makin mendunia dan sejahtera

Jakarta (ANTARA) - Perjalanan selama 499 tahun bukanlah waktu yang singkat. Dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga Jakarta, kota ini terus bergerak, tumbuh, dan bertransformasi mengikuti perkembangan zaman tanpa melupakan akar budayanya.

Dalam perjalanan panjang tersebut, Jakarta juga tidak melupakan sosok-sosok yang memiliki peran penting bagi masyarakat dan perkembangan kota. Salah satunya adalah Mohammad Husni Thamrin. Semangat perjuangan tokoh Betawi ini mengajarkan pentingnya keberanian menyuarakan keadilan melalui jalur diplomasi.

M.H. Thamrin, politikus kelahiran 16 Februari 1894, dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap kesejahteraan rakyat kecil. Ia membuktikan bahwa perubahan besar dapat diperjuangkan melalui strategi, negosiasi, dan pendidikan.

Masyarakat diajak mengenang tokoh Betawi tersebut melalui sebuah pertunjukan kolosal yang turut menggambarkan sejarah singkat Jakarta. Pertunjukan itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta yang digelar di Silang Selatan kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada Senin.

Pertunjukan mengambil latar tahun 1921, ketika Batavia dilanda krisis ekonomi. Saat itu, Gubernur Batavia Dirk Fock memerintah secara otoriter dan menerapkan berbagai kebijakan yang merugikan rakyat, terutama masyarakat Betawi yang tinggal dekat dengan pusat kekuasaan.

Ketimpangan terjadi di berbagai tempat. Ruang gerak rakyat dibatasi, sementara kesejahteraan mereka terabaikan. Masyarakat Betawi terjebak dalam dampak krisis ekonomi sekaligus aturan-aturan yang sama sekali tidak berpihak kepada mereka.

Situasi tersebut melahirkan kesadaran baru bahwa perjuangan tidak selalu harus dilakukan dengan mengangkat senjata, tetapi juga melalui jalur birokrasi dan perlawanan dari dalam sistem.

Mohammad Husni Thamrin, atau yang akrab disapa Mat Seni, merupakan salah satu pejuang Betawi yang menempuh jalan tersebut. Ia menyadari perlunya sosok yang masuk ke dalam pemerintahan dan berani menentang kebijakan Belanda agar tidak terus-menerus melahirkan aturan yang merugikan rakyat.

Perhatiannya tertuju pada berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Betawi, terutama ketimpangan pembangunan antara kampung dan kota. Cita-citanya hanya satu, yakni membela masyarakat Betawi dari ketidakadilan dan kekejaman penjajah.

Dalam sebuah pidato, M.H. Thamrin menyampaikan kegelisahannya terhadap kampung-kampung di Batavia yang kerap dilanda banjir. Karena itu, ia mengusulkan pembangunan bendungan di Sungai Ciliwung sebagai upaya mencegah bencana banjir.

Gagasan tersebut menarik perhatian rekannya, Van der Zee, yang kemudian membawanya ke dalam pembahasan sidang para anggota Gemeenteraad (Dewan Kota).

Hingga kini, kanal Ciliwung menjadi saksi sejarah atas visi seorang pemuda Betawi dalam upayanya mencari solusi bagi persoalan banjir Jakarta.

Baca juga: Mengenal dekat sosok pahlawan putra Betawi di Museum M.H Thamrin

Baca juga: HUT ke-499, Pramono refleksikan perjalanan Jakarta menuju lima abad

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |