IPB kenang 100 tahun Sajogyo lewat refleksi pembangunan desa

1 month ago 14

Kabupaten Bogor (ANTARA) - IPB University memperingati 100 tahun kelahiran tokoh sosiologi pedesaan Indonesia Sajogyo melalui refleksi pemikiran pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat di Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa.

Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University Ivanovich Agusta mengatakan sejumlah gagasan Sajogyo masih relevan diterapkan hingga saat ini, terutama terkait pembangunan yang berpihak kepada kelompok masyarakat lemah.

“Secara umum misalnya pembangunan itu harusnya yang namanya membangun itu sengaja untuk golongan yang lebih lemah. Itu masih berlaku sampai sekarang,” kata Ivanovich.

Menurut dia, Sajogyo juga menekankan pentingnya pemerataan pembangunan dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan program desa, termasuk melalui keberadaan dana desa yang dapat dikelola langsung oleh warga.

“Kalau di desa berarti sebaiknya tetap ada dana desa yang bisa dikelola warga daripada kemudian banyak hal-hal lain yang dikelola oleh negara tanpa partisipasi warga,” ujarnya.

Ivanovich menjelaskan pemikiran Sajogyo telah banyak diadopsi dalam kebijakan nasional. Salah satunya konsep garis kemiskinan Sajogyo yang diperkenalkan pada 1977 dan kemudian digunakan Badan Pusat Statistik (BPS) sejak 1984.

Baca juga: SBY dorong peran alumni IPB dalam pembangunan berkelanjutan

Selain itu, kata dia, gagasan Sajogyo mengenai taman gizi berkembang menjadi pos pelayanan terpadu (posyandu), sementara konsep transmigrasi swadaya yang pernah ditulis Sajogyo pada 1958 juga kembali menjadi kebijakan pemerintah.

“Beliau melihat dari bawah atau bottom up, sementara saat ini yang banyak berkembang kan langsung dari atas,” katanya.

Ia menilai pendekatan pembangunan berbasis partisipasi masyarakat yang diperjuangkan Sajogyo masih relevan di tengah tantangan ketimpangan sosial, krisis pangan, hingga pembangunan desa saat ini.

Menurut Ivanovich, Sajogyo bersama ekonom Mubyarto juga pernah menjadi bagian dari staf ahli Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 1993 dan mendorong pembentukan kelompok swadaya masyarakat untuk mengelola dana Instruksi Desa Tertinggal (IDT).

“Artinya kalau pemerintah sangat berkenan untuk memberdayakan masyarakat bisa langsung berjalan,” ujarnya.

Sajogyo yang lahir di Karanganyar, Jawa Tengah, pada 21 Mei 1926 dikenal sebagai Bapak Sosiologi Indonesia dan pernah menjabat sebagai Rektor IPB pada 1964–1965.

Ia dikenal luas melalui konsep “modernisasi tanpa pembangunan” atau modernization without development setelah mengkritisi dampak Revolusi Hijau yang dinilai lebih menguntungkan petani lapisan atas dan menggusur tenaga kerja di pedesaan.

Selain merumuskan garis kemiskinan berbasis nilai tukar beras, Sajogyo juga dikenal konsisten memperjuangkan pembangunan yang memihak masyarakat lapisan bawah di pedesaan melalui pendekatan partisipatif.

Ivanovich menyebut salah satu cita-cita Sajogyo yang belum terwujud hingga akhir hayatnya ialah menulis sejarah desa di Indonesia sejak awal terbentuknya desa.

“Sampai tulisan terakhir beliau ingin menulis sejarah desa di Indonesia sejak adanya desa. Itu belum sempat diselesaikan,” katanya.

Peringatan 100 tahun Sajogyo di IPB berlangsung pada 18–23 Mei 2026 dengan berbagai kegiatan seperti konferensi internasional, peluncuran buku, pameran perjalanan intelektual, pameran produk petani, hingga tur kampus.

Konferensi internasional bertajuk “Autonomous Social Sciences and Alternative Development in Times of Multiple Crises” menghadirkan akademisi dari berbagai negara untuk membahas warisan pemikiran Sajogyo terkait pembangunan alternatif, krisis iklim, hingga kedaulatan pangan.

Baca juga: HA IPB beri penghargaan kepada 100 alumni terkemuka

Pewarta: M Fikri Setiawan
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |