Industri kreativitas lokal berpeluang bertahan di kondisi geopolitik

4 days ago 5
Subsektor ini paling resilien karena nilai tambah bersumber dari talenta manusia dan kreativitas, bukan bahan baku impor.

Jakarta (ANTARA) - Direktur Kajian dan Manajemen Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif Agus Syarip Hidayat mengatakan industri lokal berbasis kreativitas manusia memiliki resiliensi atau ketahanan dalam kondisi geopolitik dan ekonomi global saat ini.

Ia mengatakan sesuai dengan peta tujuh subsektor prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Presiden Prabowo dan data yang didapat dari Rapat Kerja Komisi VII DPR RI, UMKM dan ekraf adalah subsektor berbasis kreativitas manusia yang dapat menjadi penyangga ekonomi Indonesia di tengah eskalasi geopolitik karena tidak bisa dikenai tarif, diembargo, atau diganggu oleh volatilitas komoditas.

Di antara subsektor tersebut adalah gim, aplikasi digital dan animasi yang dinilai paling dapat bertahan, karena sumbernya berasal dari kreativitas.

“Subsektor ini paling resilien karena nilai tambah bersumber dari talenta manusia dan kreativitas, bukan bahan baku impor. Tidak terpengaruh tarif atau gangguan rantai pasok global,” kata Agus dalam keterangan resmi yang diterima ANTARA, di Jakarta, Rabu.

Selain itu, Agus juga mengatakan subsektor kekayaan intelektual seperti musik, film hingga konten digital, juga memiliki potensi royalti yang tinggi sehingga bisa menambah nilai ekonomi pelaku ekraf lokal.

Sepanjang 2025, lebih dari 90 persen pelanggan Netflix Indonesia menonton konten lokal dan 35 tayangan Indonesia masuk Top 10 Global Netflix. Hal ini membuat nilai pasar industri kreator konten mencapai angka Rp1.000 triliun dengan potensi pertumbuhan kreator empat sampai lima kali dalam lima tahun ke depan.

Aset tak berwujud juga memiliki risiko rantai pasok yang minimal dan potensi royalti internasional tinggi. Dalam hal ini, Kemenekraf bekerja secara aktif di forum WIPO untuk mendorong tata kelola royalti hak cipta yang lebih adil bagi kreator Indonesia agar hak ekonominya tetap tersampaikan.

Sementara itu tiga subsektor lainnya yakni kuliner, fesyen dan kriya tetap menjadi tulang punggung industri ekonomi kreatif dengan nilai ekspor

26,68 miliar dolar Amerika (Januari–Oktober 2025), serta ekraf berbasis pariwisata dan wellness yang masih menarik investor dan wisatawan lintas batas dengan ketahanan tinggi terhadap guncangan global.

Agus mengatakan Kementerian Ekraf menjalani strategi program konkret yang hasilnya dapat secara langsung dirasakan masyarakat di tengah situasi global saat ini, di antaranya meningkatkan kualitas setara internasional secara konsisten, sertifikasi ekspor, pengemasan profesional, dan penguatan merek.

“Tujuannya bukan menjual lebih banyak, tetapi menjual dengan nilai yang lebih tinggi di pasar global,” katanya lagi.

Kemenekraf juga memberikan akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk 170.000 unit usaha ekraf mikro dengan proyeksi Rp40 triliun/tahun, pelatihan digital serta fasilitasi sertifikasi dan business matching via Ekrafhub.

Pelaku ekraf juga diminta untuk menjaga kualitas produk secara berkelanjutan dan memiliki sertifikasi internasional, memperluas pasar dengan memanfaatkan pemasaran digital, melakukan diferensiasi produk berbasis kebudayaan, dan juga melihat alternatif pasar ASEAN sebagai tujuan ekspor ekraf.

Kemenekraf juga mendorong hilirisasi produk lokal untuk mengurangi impor bahan baku, memperkuat rantau nilai dalam negeri dan menurunkan biaya produksi.

Baca juga: Menteri Ekraf berencana mengaktifkan desa kreatif di Indonesia

Baca juga: Legislator usul bentuk lembaga penjamin untuk KI industri kreatif

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |