Indonesia dorong ketangguhan keberlanjutan hadapi bencana di ASEAN

1 week ago 5

Jakarta (ANTARA) - Indonesia, sebagai ketua ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM) 2026, mendorong transformasi paradigma manajemen bencana ASEAN dari pengurangan risiko bencana menjadi ketangguhan keberlanjutan.

Menurut siaran pers Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI di Jakarta, Rabu, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kemlu Ina Krisnamurthi menekankan peran penting kerja sama ASEAN dengan para mitra negara dan organisasi internasional dalam menghadapi bencana.

Hal itu disampaikan dalam Pertemuan ke-48 ACDM and Related Meetings di Bandung, Selasa (28/7), dengan tema “From ASEAN to Global: Strengthening Community Preparedness and Leadership for Sustainable Resilience”.

Selain itu, dia juga menyoroti bahwa kerja sama ASEAN dengan mitra bukan sekadar reaksi terhadap bencana, tetapi membangun perisai bersama karena tanpa kerja sama, ketangguhan keberlanjutan tidak dapat terwujud.

Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rustian menekankan pentingnya implementasi ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER) Work Program 2026-2030 yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Sustainable Resilience harus menjadi kerangka kerja yang praktis dan lintas sektor bagi aksi ASEAN. Sejalan dengan ASEAN Leaders' Declaration on Sustainable Resilience tahun 2023, ketangguhan harus berpusat pada masyarakat serta terintegrasi dalam seluruh sektor dan tiga Pilar Komunitas ASEAN,” kata Rustian.

Indonesia juga mendorong penguatan kesiapsiagaan dan koordinasi regional, pemanfaatan data dan teknologi, sistem peringatan dini, serta investasi berkelanjutan untuk penguatan kapasitas lokal.

Indonesia juga akan memanfaatkan momentum keketuaan ACDM 2026 untuk meningkatkan kapasitas antisipasi dan peringatan dini, memprioritaskan komunitas lokal, serta mendorong kontribusi ASEAN dalam pembentukan norma dan arsitektur ketangguhan global pasca-SDGs 2030.

Aksi Antisipasi, termasuk melalui Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD), dipandang penting agar informasi risiko dapat diubah menjadi tindakan terkoordinasi sebelum dampak bencana meluas

Pengalaman Indonesia tersebut diharapkan dapat menjadi praktik baik bagi negara anggota ASEAN, khususnya untuk mendukung mandat ASEAN Socio-Cultural Community Strategic Plan of the ASEAN Community Vision 2045.

Sesi tersebut diikuti oleh sembilan negara mitra eksternal ASEAN: Australia, Kanada, Uni Eropa, Selandia Baru, Rusia, AS, Inggris, Turki, dan Prancis.

Sedangkan organisasi internasional yang mengikuti sesi tersebut adalah UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UNOCHA), UN Development Program (UNDP), International Organization for Migration (IOM), International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), dan Asian Disaster Preparedness Center (ADPC).

Baca juga: ASEAN perkuat kerja sama penanganan dampak bencana di kawasan

Baca juga: RI–Malaysia bahas optimalisasi bantuan bencana di kawasan ASEAN

Baca juga: BMKG gagas pembentukan Pusat Koordinasi Multi Bahaya di ASEAN

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |