Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Universitas Indonesia dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, menjelaskan hemodialisis atau terapi cuci darah dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis.
Hemodialisis merupakan salah satu prosedur medis yang diperlukan untuk menangani gagal ginjal kronis. Terapi tersebut bertujuan mengeluarkan racun atau sisa-sisa sampah dari tubuh yang tidak bisa terbuang karena pasien mengalami gangguan ginjal.
Penyakit ginjal kronis, kata Anindia kepada ANTARA di Jakarta, Senin, dijuluki silent killer atau diam-diam mematikan karena tidak bergejala sampai penyakit tersebut dalam kategori berat. Hemodialisis diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, antara lain untuk mengurangi keluhan berupa cepat lelah, mual, muntah dan bengkak pada bagian tubuh.
Baca juga: Inovasi dialiser generasi baru bisa tingkatkan kualitas hidup pasien
"Yang tadinya misalkan pasien mengalami keluhan cepat lelah, mual muntah dan bengkak (awalnya di kaki, perut hingga seluruh tubuh), diharapkan setelah pasien menjalani hemodialisis rutin, keluhan itu akan berkurang, kualitas hidup meningkat, dan komplikasi pasien di masa depan juga akan berkurang," ujar Anindia.
Hemodialisis dilakukan dengan mengalirkan darah pasien menuju mesin hemodialisa. Darah kemudian disaring oleh dialiser untuk menghilangkan racun dan sisa metabolisme.
Setelah itu, darah kembali dialirkan ke tubuh pasien.
"Bila faktor yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal adalah proses yang berlangsung sudah lama seperti hipertensi, diabetes melitus atau obesitas yang berkepanjangan, maka mungkin pasien akan membutuhkan hemodialisis berkepanjangan,” kata Anindia.
Setelah menjalani prosedur cuci darah, pasien gagal ginjal harus kontrol rutin dengan dokter dan masih memerlukan beberapa terapi.
"Jangan lupa untuk membatasi (asupan) cairan supaya tidak terjadi komplikasi seperti sesak nafas atau bengkak, kata dia menambahkan.
Anindia juga menyampaikan terdapat sejumlah terapi selain hemodialisis seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau dialisis peritoneal merupakan salah satu metode cuci darah yang dilakukan melalui peritoneum, hingga transplantasi ginjal yaitu pencangkokkan ginjal dari pendonor kepada pasien.
Baca juga: Kemenkes: CKG & inovasi mampu kurangi emisi karbon dari terapi ginjal
Baca juga: Wamenkes: RS tidak boleh tolak pasien cuci darah BPJS PBI nonaktif
Baca juga: Pakar Gizi: Edukasi penyakit tidak menular penting untuk masyarakat
Baca juga: Dokter spesialis jelaskan waktu yang tepat pemasangan akses cuci darah
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































