Jakarta (ANTARA) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta wisatawan untuk menjauh dari areal kawah di Gunung Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, meski terjadi penurunan suhu air danau pada kawah II atau dikenal dengan Tiwu Ko'ofai Nuwamuri.
Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, mengatakan bahwa berdasarkan hasil pengukuran terbaru, suhu air di kawah tersebut turun dari sebelumnya 35 derajat Celsius menjadi 33,2 derajat Celsius.
Penurunan suhu tersebut diperoleh dari hasil pengukuran lapangan dan pengamatan tim Badan yang dilakukan oleh tim teknis Badan Geologi pada 4 Juli 2026, setelah dibandingkan dengan data pengukuran sebelumnya pada 30 Juni 2026.
Meskipun terjadi penurunan suhu air, Badan Geologi mencatat bahwa warna air danau pada Kawah II terpantau tidak mengalami perubahan dan tetap mempertahankan warna hijau muda yang konsisten sejak pertengahan Juni 2026.
Lebih lanjut, Lana Saria mengonfirmasi bahwa tren penurunan suhu air di Kawah II ini juga tidak diikuti oleh adanya perubahan yang signifikan pada aktivitas kegempaan maupun tinggi asap di atas permukaan air danau kawah tersebut.
Baca juga: Kawah gunung Kelimutu longsor, diduga akibat curah hujan tinggi
Berdasarkan laporan pengamatan visual berkala, air di Danau Kawah I tercatat berwarna hijau tosca, air Danau Kawah II berwarna hijau muda, sedangkan air Danau Kawah III menunjukkan warna hijau tua.
Hingga saat ini, tingkat aktivitas vulkanik dari gunung api yang terkenal dengan keindahan tiga warna danau kawahnya tersebut masih dipatok pada Level I dengan status Normal.
Mengingat Gunung Kelimutu merupakan salah satu destinasi gunung api wisata dengan jumlah kunjungan wisatawan yang cukup tinggi, Badan Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting demi menjaga keselamatan publik.
Masyarakat di sekitar Gunung Kelimutu maupun para pengunjung dan wisatawan diimbau untuk tidak mendekati area tepi kawah, terutama pada objek Kawah II, guna meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi letusan freatik yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Badan Geologi juga meminta pemerintah daerah setempat bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk terus meningkatkan koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Kelimutu di Kampung Kolorongo, Desa Waturaka, Kabupaten Ende, maupun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Baca juga: PVMBG imbau wisatawan patuhi zona rekomendasi saat mendaki gunung api
Baca juga: Badan Geologi: Waspada masih terjadi suplai magma di Gunung Kelimutu
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































