Jakarta (ANTARA) - Ganda putri Jepang Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto menyatakan terkesan dengan dukungan yang mereka terima dari penonton Istora Gelora Bung Karno setelah menjuarai Indonesia Open 2026, Minggu.
"Main di Istora sebenarnya lumayan sulit. Apalagi kalau melawan pemain Indonesia, terkadang suara shuttlecock tidak terdengar karena suasananya sangat ramai. Tapi hari ini kami merasa banyak yang meneriakkan nama kami," kata Fukushima setelah pertandingan.
Fukushima/Matsumoto menjuarai nomor ini setelah menundukkan pasangan nomor satu dunia dari China, Liu Sheng Shu/Tan Ning, dengan 21-15, 18-21, 21-18 pada partai final.
Menurut Fukushima, dukungan penonton tidak hanya datang ketika mereka meraih poin.
"Waktu kami melakukan kesalahan pun ternyata tetap didukung. Jadi bagi saya sangat menyenangkan bisa bertanding di Istora," ujarnya.
Kemenangan tersebut tidak diraih dengan mudah karena harus kehilang dulu gim kedua dan tertinggal 12-15 pada gim penentuan.
Baca juga: Raymond/Joaquin juga gagal juarai Indonesia Open 2026
Namun mereka bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 16-16 sebelum mengambil alih kendali pertandingan hingga memastikan kemenangan.
"Menurut saya pertandingan hari ini adalah pertandingan mental. Siapa yang bisa mengatasi tekanan akan menjadi pemenang. Hari ini pertandingan yang sulit dan kami senang bisa menang," kata Matsumoto.
Pasangan Jepang itu juga menerapkan strategi berbeda saat menghadapi Liu/Tan yang memiliki permainan menyerang.
"Kami sudah sering bertemu mereka. Kalau kami terlalu banyak bertahan, kami akan terus ditekan. Karena itu kami berusaha lebih banyak bergerak ke depan dan menyerang. Strategi itu berjalan dengan baik," ujar Matsumoto.
Sukses dalam Indonesia Open 2026 menjadi kemenangan kedua Fukushima/Matsumoto atas Liu/Tan dari lima pertemuan, sehingga memperbaiki rekor pertemuan mereka menjadi 2-3.
Baca juga: Victor Lai gagalkan mimpi Jonatan Christie juarai Indonesia Open
Pewarta: Muhammad Ramdan
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































