Frugal living bisa bertahan karena anak muda makin selektif konsumsi

3 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Antropolog Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto menilai tren frugal living atau gaya hidup hemat berpotensi bertahan dalam jangka panjang seiring meningkatnya kesadaran finansial dan pola konsumsi selektif di kalangan generasi muda.

Menurut Semiarto, tren hidup hemat saat ini memang dapat berubah mengikuti perkembangan gaya hidup dan estetika yang terus bergerak cepat.

“Kalau sekarang ini mungkin tren aja ya, jangka pendek. Karena kita lagi di dalam dunia yang cepat sekali perubahannya,” kata Semiarto ketika dihubungi ANTARA pada Jumat.

Meski demikian, ia menilai prinsip hidup hemat dan konsumsi yang lebih rasional kemungkinan tetap bertahan karena generasi muda semakin sadar pentingnya pengelolaan keuangan.

“Kesadaran finansial kita kan makin tinggi. Kesadaran untuk menabung, untuk budgeting,” ujarnya.

Ia menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi pola kerja berbasis gig economy yang membuat pendapatan generasi muda cenderung tidak selalu stabil setiap waktu.

Baca juga: Frugal living vs flexing, “perang” gaya hidup di media sosial

“Kita hidup di dalam konteks ekonomi yang berbasis gigs. Ada kalanya punya uang cukup banyak, tapi ada kalanya kosong,” katanya.

Karena itu, menurut dia, generasi muda saat ini semakin selektif dalam menentukan prioritas pengeluaran dan lebih mengutamakan pengalaman dibanding kepemilikan aset.

“Prioritas sekarang memang bukan pada kepemilikan, tapi pada pengalaman dan well being,” ujar Semiarto.

Ia menilai kebutuhan akan kenyamanan kini juga semakin fleksibel karena banyak layanan yang memungkinkan masyarakat menikmati fasilitas tertentu tanpa harus memilikinya secara permanen.

“Kita bisa tinggal di apartemen atau sewa. Pilih kendaraan online premium tanpa harus beli mobil premium,” katanya.

Menurut Semiarto, aspek yang kemungkinan berubah lebih cepat adalah frugal living sebagai tren estetika, seperti gaya berpakaian atau tampilan visual yang saat ini cenderung sederhana dan minimalis.

“Yang mungkin berubah cepat adalah frugal living sebagai tren estetika,” ujarnya.

Namun, ia menilai prinsip efisiensi dan konsumsi selektif kemungkinan tetap bertahan karena masyarakat urban semakin adaptif terhadap tekanan ekonomi perkotaan.

“Praktik efisiensi ini kayaknya masih akan tetap tinggi karena faktor-faktor struktural tadi,” kata Semiarto.

Baca juga: Pengeluaran yang pertama dipangkas saat mulai berhemat

Baca juga: "Gig economy" dorong generasi muda lebih rasional atur pengeluaran

Baca juga: Gaya hidup hemat kian diminati sebagai identitas sosial

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |