Den Haag (ANTARA) - Pemerintah Belanda pada Senin (9/3) mengonfirmasi bahwa Belanda memutuskan untuk mengerahkan kapal fregat komando dan pertahanan udara beserta awaknya ke Laut Mediterania Timur dalam misi pertahanan yang akan berlangsung hingga awal April.
Dalam surat kepada Dewan Perwakilan Rakyat Belanda, Menteri Luar Negeri (Menlu) Belanda Tom Berendsen dan Menteri Pertahanan (Menhan) Belanda Dilan Yesilgoz-Zegerius mengungkapkan pengerahan tersebut bertujuan untuk berkontribusi pada stabilitas dan keamanan regional, khususnya keamanan negara-negara anggota Uni Eropa (UE), sekutu NATO, mitra regional, dan warga negara Belanda di kawasan tersebut.
"Bersama dengan sekutu-sekutu kami, kami pun memperkuat keamanan Eropa," tulis menhan Belanda di platform media sosial X pada Senin (9/3).
Kapal fregat komando dan pertahanan udara Belanda, HNLMS Evertsen, telah beroperasi bersama kapal induk Prancis, Charles de Gaulle, sejak 4 Februari sebagai bagian dari armada tempur kapal induk. Pada pekan lalu, Prancis secara resmi meminta Belanda untuk memperpanjang dukungannya bagi armada tersebut, dengan rincian misi disepakati dalam beberapa hari terakhir.
Menurut surat tersebut, selain melindungi wilayah sekutu, fregat tersebut akan membantu melindungi kapal-kapal perang lain di kawasan tersebut, terutama kapal induk Charles de Gaulle dan kapal-kapal pendampingnya.
Pemerintah Belanda juga menekankan bahwa pengerahan tersebut secara geografis terbatas di Laut Mediterania Timur. Pada tingkat taktis, komando operasional akan berada di bawah kendali kapal induk Charles de Gaulle, sementara otoritas Belanda tetap memegang kendali nasional penuh atas Evertsen.
Lembaga penyiaran publik Belanda, NOS, melaporkan kapal Evertsen mampu mendeteksi ancaman udara seperti drone pada tahap sangat dini, sehingga memungkinkan peringatan cepat terkait kemungkinan lokasi jatuhnya proyektil. Fregat tersebut juga mampu mencegat drone.
Sekitar 170 personel bertugas di kapal tersebut. Angkatan Laut Kerajaan Belanda mengoperasikan empat fregat komando dan pertahanan udara jenis ini.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































