Jakarta (ANTARA) - Dunia sedang meninggalkan era ketika pertumbuhan ekonomi dapat dibangun terutama melalui perdagangan bebas, energi murah, dan rantai pasok global yang efisien. Model ekonomi yang selama puluhan tahun menopang globalisasi kini mulai kehilangan fondasinya.
Perubahan itu terlihat semakin jelas dalam beberapa tahun terakhir. Pandemi memutus distribusi barang lintas negara, perang mengguncang pasokan energi dan pangan, sementara rivalitas negara besar mendorong perebutan teknologi, mineral strategis, dan jalur perdagangan dunia.
Akibatnya, ekonomi global bergerak menuju pola baru yang lebih mahal, lebih berhati-hati, dan semakin dipengaruhi kepentingan geopolitik.
Dalam situasi tersebut, banyak negara mulai mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar. Industri strategis dipindahkan mendekati pasar domestik, investasi disaring lebih ketat, dan keamanan pasokan menjadi prioritas utama.
Dunia tidak sepenuhnya meninggalkan globalisasi, tetapi keterhubungan ekonomi kini dibangun dengan logika yang berbeda dibanding sebelumnya.
Jika pada era lama efisiensi menjadi tujuan utama, maka pada era baru ketahanan menjadi pertimbangan yang sama pentingnya. Negara rela membayar biaya produksi lebih mahal demi menjaga stabilitas energi, pangan, teknologi, dan industri nasional mereka.
Perubahan inilah yang melahirkan fragmentasi global. Sistem ekonomi dunia tidak lagi bergerak sebagai satu pasar besar yang relatif terbuka, melainkan mulai terbagi ke dalam jaringan kepentingan yang lebih sempit dan strategis. Hubungan ekonomi semakin dipengaruhi kalkulasi politik, keamanan, dan perebutan pengaruh antarnegara.
Konsekuensinya mulai terasa di berbagai sektor. Harga energi menjadi lebih mudah bergejolak, biaya logistik meningkat, dan perdagangan internasional semakin rentan terhadap konflik geopolitik.
Ketika gangguan terjadi di jalur strategis seperti Selat Hormuz, dampaknya dapat langsung menjalar ke inflasi, biaya produksi, dan pasar keuangan global.
Situasi tersebut menandai berakhirnya era ekonomi murah yang selama ini menjadi salah satu mesin pertumbuhan dunia. Energi murah, distribusi murah, dan produksi murah tidak lagi dapat sepenuhnya dijamin dalam dunia yang semakin terfragmentasi.
Bagi Indonesia, perubahan ini menghadirkan tantangan yang jauh lebih mendasar dibanding sekadar menjaga pertumbuhan ekonomi tahunan.
Persoalannya bukan hanya bagaimana mempertahankan stabilitas di tengah tekanan global, tetapi bagaimana menghindari jebakan menjadi negara pemasok bahan mentah dalam sistem ekonomi baru yang semakin kompetitif.
Selama bertahun-tahun, ekonomi Indonesia relatif ditopang kombinasi ekspor komoditas dan konsumsi domestik. Model tersebut cukup efektif ketika perdagangan global berada dalam kondisi stabil.
Namun dalam dunia yang semakin dipenuhi rivalitas geopolitik dan ketidakpastian rantai pasok, ketergantungan terhadap komoditas justru memperbesar kerentanan ekonomi.
Ketika harga energi melonjak atau perdagangan global melambat, dampaknya langsung terasa terhadap nilai tukar, inflasi, penerimaan negara, dan biaya produksi industri domestik. Tekanan eksternal menjadi lebih cepat masuk ke dalam sistem ekonomi nasional.
Tantangan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































