ESDM tetap pangkas kuota produksi batu bara meski harga meroket

6 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan tetap memangkas kuota produksi batu bara meskipun harga komoditas tersebut meroket hingga di atas 130 dolar AS per ton akibat perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

“Ini kan (kenaikan harga batu bara) kejadian baru-baru aja nih. Kita jangan langsung nyimpulin,” ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara (Minerba) Tri Winarno ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Senin.

Harga batu bara meroket dari yang semula berada di bawah 120 dolar AS per ton, kini melampaui 130 dolar AS per ton dalam kurun waktu kurang lebih sepekan. Lonjakan tersebut disebabkan oleh perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Tri menyampaikan pemerintah pasti menyiapkan langkah antisipatif, salah satunya adalah memberi ruang bagi para penambang batu bara untuk mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Pengusaha tambang batu bara dapat mengajukan revisi dari RKAB 2026 yang telah disetujui oleh pemerintah. Para pengusaha dapat mengajukan revisi pada pertengahan tahun 2026.

Salah satu acuan yang dapat menjadi dasar merevisi RKAB 2026 adalah dinamika permintaan batu bara.

“Jadi, pintu-pintu itu sudah kami siapkan. Jangan gegabah, kira-kira begitu,” ucap Tri.

Kuota produksi batu bara 2026 ditetapkan sekitar 600 juta ton, atau berkurang sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton. Pemerintah berharap terjadi peningkatan harga batu bara di pasar dunia dari kebijakan pemangkasan produksi batu bara.

Tri tidak mau membuat kebijakan secara gegabah, sebab ia tidak ingin terjadi kelebihan suplai batu bara jika diberikan kelonggaran hanya karena harga batu bara yang mengalami peningkatan selama sepekan terakhir.

“Jangan sampai nanti dinaikkan (kuota produksi batu bara), jor-joran (produksinya), terus habis itu (harganya) turun lagi. Cari keseimbangan lah,” ucap Tri.

Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi sekolah, serta sejumlah pejabat tinggi militer.

Iran telah membalas dengan rentetan serangan besar-besaran yang menargetkan pangkalan AS, fasilitas diplomatik, dan personel militer di seluruh kawasan, serta beberapa kota di Israel. Serangan tersebut terus meningkat.

Pada Minggu (8/3), AS dan Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan fasilitas penyimpanan minyak Iran di Teheran dan sekitarnya.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada sejumlah fasilitas penyimpanan, termasuk Depo Minyak Shahran. Alhasil, harga minyak dunia pun melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel.

Harga tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel, dan US WTI berada di angka 57,87 dolar AS per barel.

Harga batu bara juga turut melonjak, sebab batu bara menjadi sumber energi alternatif ketika minyak dan gas bumi (migas) mengalami kelangkaan atau lonjakan harga akibat perang.

Baca juga: Menteri Bahlil jamin stok batu bara untuk PLN aman hingga April

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |