Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti, menilai hilirisasi industri menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan Indonesia.
Esther Sri Astuti dihubungi di Jakarta, Senin menyampaikan, melalui pengolahan komoditas menjadi produk antara maupun produk akhir, Indonesia berpeluang memperoleh nilai ekonomi yang lebih tinggi sekaligus memperkuat daya saing di pasar domestik dan global.
Esther mengatakan konsep hilirisasi sangat relevan diterapkan pada berbagai komoditas perkebunan seperti kopi dan kakao.
Menurutnya, pengolahan komoditas tersebut menjadi produk intermediate maupun produk final akan meningkatkan nilai jual produk dibandingkan hanya mengekspor bahan mentah.
Baca juga: BRIN perkuat ekosistem kopi khas Magelang untuk tingkatkan daya saing
"Saya sepakat dengan konsep hilirisasi industri untuk komoditas perkebunan karena dengan hilirisasi komoditas kopi, coklat dan lain-lain, bisa diolah menjadi produk intermediate bahkan produk final sehingga harganya pun bisa lebih mahal di pasar," ujarnya.
Meski demikian, Esther menekankan bahwa hilirisasi tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan nilai tambah ekonomi. Menurutnya, keberhasilan hilirisasi juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungan agar manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Ia menjelaskan, hilirisasi industri perlu mempertimbangkan tiga aspek utama, yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan. Selain meningkatkan harga dan nilai tambah produk, hilirisasi juga harus mampu menciptakan lapangan kerja, membantu pengentasan kemiskinan, serta menghindari dampak negatif terhadap lingkungan.
"Artinya hilirisasi industri tidak hanya concern pada nilai tambah dan harga produk yang lebih mahal tetapi hilirisasi industri juga harus memberikan benefit pada lingkungan sosial, penciptaan lapangan pekerjaan, pengentasan kemiskinan, dan lain-lain," katanya.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































