Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Denis Chaibi memuji kepemimpinan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam penyelesaian Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA).
"Berkat dukungan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Komisi Eropa, yang bertemu di Brussels pada 25 Juli, serta koordinasi antara Menteri Airlangga dan Komisioner Šefčovič, negosiasi akhirnya berhasil diselesaikan," kata Chaibi pada acara resepsi Europe Day di Jakarta, Kamis malam.
Chaibi menyebutkan bahwa implementasi CEPA ditargetkan mulai berlaku pada awal 2027.
"Hal itu menunjukkan bahwa hanya ketika Eropa melihat lebih jauh dari Brussels, dan Indonesia melihat lebih jauh dari berbagai perbedaan, kedua pihak dapat mewujudkan potensi besar kerja sama mereka," katanya.
Menurut Dubes Chaibi, potensi itu juga terlihat jelas dalam kerja sama Layanan Aksi Eksternal Eropa (EEAS).
Ia menyampaikan bahwa Uni Eropa juga menyatakan keinginan kuat untuk mempererat kerja sama dengan Indonesia, termasuk dalam masalah terkait Gaza dan Lebanon.
"Selain itu, kedua pihak juga menghadapi dampak berbagai krisis global yang menunjukkan pentingnya untuk menjaga keamanan dan stabilitas internasional," ucapnya.
Lebih lanjut, Chaibi menilai hubungan Indonesia dan Uni Eropa terus berkembang melalui hubungan antarmasyarakat, antara lain dengan kegiatan budaya seperti Festival Film Eropa yang akan dimulai pada Juni mendatang, serta meningkatnya minat masyarakat Indonesia untuk menempuh pendidikan di Eropa.
"Hubungan tersebut diperkuat melalui kerja sama pendidikan, budaya, teknologi, dan investasi lewat inisiatif Global Gateway, dengan prospek kemitraan strategis yang dinilai semakin positif," ujar Chaibi.
Baca juga: Kemlu: Kerja sama ekonomi RI-Uni Eropa tak lupakan aspek HAM
Baca juga: Indonesiadan UE perkuat kemitraan lewat Desk Investasi Uni Eropa
Pewarta: Asri Mayang Sari
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































