Dosen UNS teliti soal bahaya material baterai bekas pakai

1 week ago 7

Solo (ANTARA) - Dosen Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Annie Purwani meneliti soal bahaya material baterai bekas pakai untuk kesehatan manusia.

Hasil penelitiannya tersebut disampaikan pada Ujian Terbuka Promosi Doktor Teknik Industri soal penelitian strategi optimal dalam mengelola End-of-Life (EoL) baterai swap sepeda motor listrik di Solo, Jawa Tengah, Jumat.

Dari hasil penelitiannya, ia mengatakan baterai bekas pakai yang hanya didiamkan akan berdampak pada kesehatan.

"Karena di dalamnya ada nikel, mangan yang akan memengaruhi kesehatan atau bisa menjadi pemicu kanker dan gangguan pernapasan pada manusia," katanya.

Sedangkan kaitannya dengan ekosistem lingkungan, dikatakannya, jika ada material baterai yang hanyut di air maka akan memengaruhi keasaman air.

Baca juga: Universitas dengan jurusan pendidikan terbaik di Indonesia 2025

"Dengan begitu air menjadi tidak aman untuk dikonsumsi. Sedangkan jika kena di tanah juga akan mengganggu ekosistem tanah," katanya.

Oleh karena itu, ia merekomendasikan agar dilakukan daur ulang pada baterai bekas pakai.

"Jadi baterai yang sebetulnya masih baik harapannya bisa dapat didaur ulang karena ini kan ada material pendukungnya. Kalau bikin baru dengan material baru artinya harus membuka pertambangan baru. Akhirnya lama-lama juga akan habis," katanya.

Pada penelitian, ia juga mengaitkan dengan meningkatnya penggunaan sepeda motor Listrik yang ditenagai baterai. Meski sepeda motor listrik ini merupakan solusi transportasi ramah lingkungan, dikatakannya, tantangan besar ada pada pengelolaan baterai yang mencapai akhir masa pakainya (EoL).

Baca juga: UNS buka sembilan prodi baru pada penerimaan mahasiswa 2025

Oleh karena itu, dalam penelitiannya, Annie mengusulkan konsep EoL baterai swap dengan metode Life Cycle Assessment (LCA) untuk mengukur dampak lingkungan dan menentukan kriteria serta nilai cut-off guna mendukung rantai pasok sirkular yang lebih efisien.

Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yang pertama adalah pengukuran dampak lingkungan pada baterai swap 1,4 kWh dengan State of Health (SoH) 80 persen. Sedangkan yang kedua adalah penentuan kriteria dan nilai cut-off EoL untuk optimalisasi pengelolaan baterai.

Penelitian ini menghasilkan dua temuan utama. Pertama, pengukuran dampak lingkungan mengidentifikasi lima faktor utama , yakni terrestrial ecotoxicity, fossil resources scarcity, human carcinogenic, global warming dan terrestrial acidification, dengan cut-off optimal pada SoH 88 persen sebelum repair, yang mampu menekan emisi karbon hingga 1.641 kg CO2 eq dan meningkatkan efisiensi material hingga 0,94.

Baca juga: 7 universitas negeri dengan jurusan hukum terbaik di Indonesia 2025

Kedua, ditetapkan dua kriteria cut-off Eol berdasarkan Global Warming Potential (GWP) dan Material Circularity Index (MCI), serta model prediksi penarikan baterai Eol di swap station menggunakan Response Surface Methodology (RSM).

"Strategi ini memperpanjang masa pakai baterai dan mengurangi dampak lingkungan, serta berpotensi diintegrasikan dengan Battery Management System (BMS) untuk recall baterai yang lebih akurat sebelum mencapai End-of-Life. Temuan ini memberikan solusi nyata bagi industri EV serta mendukung pengembangan keilmuan Sistem Logistik dan Rekayasa Bisnis dalam bidang Teknik Industri," katanya.

Sementara itu, dari ujian terbuka tersebut Annie berhasil lulus dengan predikat pujian.

Baca juga: UNS minta lulusan PPG jadi agen perubahan

Baca juga: Kementerian Dikdasmen minta lulusan PPG siap mengabdi di 3T

Baca juga: RS UNS ablasi jantung 3D pertama di Solo Raya

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |