Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Yovi Kurniawati menyampaikan bahwa penyebab tekanan darah tinggi pada anak agak berbeda dengan penyebab hipertensi pada orang dewasa.
Menurut informasi di laman resmi Kementerian Kesehatan, tekanan darah tinggi pada individu berusia produktif bisa terjadi karena stres, konsumsi garam berlebih, obesitas, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol berlebih.
"Tekanan darah tinggi pada anak itu mungkin agak berbeda dengan dewasa. Pada anak itu memang rata-rata tekanan darah tinggi itu penyebabnya seperti tadi, penyebabnya tidak diketahui dan hanya beberapa persen yang kita bisa cari," kata dr. Yovi Kurniawati, Sp. J.P, Subs. K.Ped.P.J.B (K) kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Dokter lulusan Universitas Indonesia yang kini bekerja di Rumah Sakit Pondok Indah-Pondok Indah itu mengatakan, kasus tekanan darah tinggi pada anak ada yang berkaitan dengan kelainan struktur jantung.
Menurut dia, ada pula kasus tekanan darah tinggi pada anak yang berkaitan dengan penyakit jantung koroner, gangguan ginjal, dan Arteritis Takayasu, peradangan pembuluh darah.
Baca juga: Waspadai hipertensi pada anak, kenali faktor risikonya
Dokter Yovi mengatakan, gaya hidup yang tidak sehat juga dapat meningkatkan peluang anak mengalami tekanan darah tinggi.
"Kalau untuk kita tahu penyebabnya apa, terus bisa dikoreksi, itu (tekanan darah tingginya) bisa diperbaiki," katanya.
"Tapi, kalau tidak tahu penyebabnya, ini yang rata-rata kami hanya bisa mengontrol ya, misalnya dengan obat, alat-alat, pola makan, gaya hidup, dan sebagainya," ia menambahkan.
Ia menjelaskan bahwa tekanan darah normal anak bervariasi sesuai dengan usia, jenis kelamin, dan tinggi badan. Rentang tensi normal anak antara 80/50 mmHg dan 120/80 mmHg.
Kementerian Kesehatan mencatat dari 1 Januari hingga 3 Mei 2026 layanan pemeriksaan kesehatan pemerintah telah menjangkau 4,8 juta anak di 48.000 sekolah.
Hasil pemeriksaan kesehatan itu menunjukkan sekitar 1,1 juta anak mengalami masalah gigi berlubang, 663.000 anak mengalami peningkatan tekanan darah, dan 239.000 anak mengalami penumpukan kotoran di telinga.
Baca juga: Anak yang lahir prematur lebih berisiko mengalami hipertensi
Baca juga: Lima kebiasaan sehat yang bisa bantu turunkan tekanan darah tinggi
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































