Samarinda (ANTARA) - Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur (Dispar Kaltim) mulai tahun ini akan mengembangkan kota kreatif berbasis klaster sesuai dengan potensi lokal dan keunggulan masing-masing kabupaten/kota, sebagai upaya mencetak ekonomi kreatif (ekraf) yang unggul dan berdaya saing.
"Perputaran uang sektor ekraf Kaltim pada 2025 sebesar Rp36,84 miliar, bertambah Rp4,68 miliar dari tahun sebelumnya yang tercatat Rp32,16 miliar. Namun kami ingin tahun ini ekraf lebih unggul lagi agar perputaran uang mereka juga naik," ujar Kepala Dispar Kaltim Ririn Sari Dewi di Samarinda, Kamis.
Ia menyebut bahwa saat ini terdapat 263 kelompok pelaku usaha yang bergerak di sektor ekraf Kaltim dengan 17 sub sektor ekraf yang tersebar di 10 kabupaten/kota, sehingga usaha mereka akan diupayakan terus tumbuh dan berkembang.
Cara yang dilakukan adalah dengan pengembangan kota kreatif dan klaster, yakni Kota Samarinda ditonjolkan sebagai kreatif digital hub dan fesyen, Kota Balikpapan dengan menonjolkan pusat kuliner dan film komersial.
Kemudian Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Kartanegara difokuskan pada pariwisata dan budaya. Sementara kabupaten/kota lainnya pun terus dikembangkan sesuai dengan potensi daerah masing-masing.
Saat ini pihaknya pun sedang melakukan penyusunan Peta Jalan Ekraf 2026 – 2030 yang berbasis pada tren nilai tambah dan kontribusi, yakni berfokus pada empat pilar utama seperti pariwisata dan budaya, digital dan inovasi, UMKM kuliner/fesyen, serta konten dan media.
Hal lain yang dilakukan mulai tahun ini adalah digitalisasi dan peningkatan kapabilitas industri yang berfokus pada subsektor stagnan (periklanan, arsitektur, desain) melalui Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), subsidi teknologi, dan pelatihan perangkat lunak desain untuk efisiensi dan daya saing.
Melakukan reformasi kebijakan dan pembiayaan dengan membentuk Skema Kredit Usaha Ekraf Kaltim dan dukungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), sebagai upaya memperluas akses modal serta perlindungan dan nilai komersial karya kreatif.
Memperkuat basis data ekonomi kreatif melalui integrasi aktivitas berbasis Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), sebagai pondasi perencanaan pembangunan 2026 – 2030.
"Termasuk pengembangan ekraf berbasis lapangan usaha melalui modernisasi industri pengolahan (makanan, roti/kue, kuliner), percepatan jaringan internet di daerah terpencil, dan optimalisasi distribusi melalui ritel modern, e-commerce, dan pasar digital," kata Ririn.
Pewarta: M.Ghofar
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































