Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi memastikan pasokan dan bahan baku pupuk nasional tetap aman meskipun terjadi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya di jalur Selat Hormuz.
"Karena kan kita punya uang muka dari pemerintah, jadi kita bisa beli bahan bakunya di depan, itu yang impor. Yang dalam negeri kan harganya ditetapkan pemerintah enggak berubah, jadi semuanya terkendali," kata Rahmad ditemui usai rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis.
Rahmad menegaskan hal itu, ketika awak media mengkonfirmasi ketersediaan bahan baku pupuk di tengah gejolak Timur Tengah.
Ia memastikan bahan baku masih dalam posisi yang terkendali. Adapun kapasitas produksi pupuk urea secara nasional mencapai 8,8 juta ton secara operasional, meskipun kapasitas terpasang sebesar 9,4 juta ton.
Dia juga menyampaikan dengan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 113 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi, pihaknya bisa melakukan pengadaan bahan baku karena pemerintah melalukan pembayaran di muka.
Menurutnya perubahan kebijakan melalui Peraturan Presiden Nomor 113 yang mengubah mekanisme subsidi pupuk menjadi lebih efisien dan berbasis harga pasar.
Ia menjelaskan mekanisme penagihan subsidi kini tidak lagi menggunakan skema cost-plus, melainkan mengacu pada harga pasar yang dinilai lebih transparan dan akuntabel.
Baca juga: Dirut Pupuk pastikan HET pupuk subsidi tak naik meski gejolak Hormuz
Dalam skema baru, pembayaran subsidi tidak lagi sepenuhnya dilakukan setelah barang diterima, melainkan sebagian telah diberikan di muka untuk mendukung kelancaran distribusi pupuk.
Rahmad menyebut kebijakan deregulasi itu memungkinkan distribusi pupuk menjadi lebih cepat dan efisien sehingga ketersediaan pupuk dapat langsung dirasakan oleh petani di berbagai wilayah.
Kemudahan distribusi tersebut berdampak pada meningkatnya akses petani terhadap pupuk subsidi, sehingga proses penebusan pupuk menjadi lebih mudah dan tidak mengalami hambatan berarti.
Diketahui, Pupuk Indonesia melakukan diversifikasi sumber bahan baku strategis guna menjaga stabilitas produksi dan pasokan pupuk nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Pupuk Indonesia melakukan diversifikasi sumber impor bahan baku strategis, khususnya fosfat (P) dan kalium (K) yang menjadi komponen utama dalam produksi pupuk NPK dan tidak tersedia secara alami di Indonesia.
Baca juga: Pupuk Indonesia: Pasokan pupuk urea aman meski gejolak di Selat Hormuz
Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira dalam keterangan dikonfirmasi di Jakarta, Senin (16/3) mengatakan pasokan fosfat saat ini diperoleh dari sejumlah negara di Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair.
Sementara pasokan kalium didatangkan dari Kanada dan Laos yang berada di luar kawasan konflik Timur Tengah sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.
Selain itu, bahan baku sulfur (S) yang sebagian berasal dari negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait juga telah diantisipasi melalui alternatif pasokan dari negara lain seperti Kanada dan Kazakhstan. Sebagian kebutuhan asam sulfat juga dapat dipenuhi dari sumber domestik.
Perusahaan juga memperkuat manajemen stok bahan baku dengan menjaga ketersediaan fosfat, kalium, sulfur, serta asam sulfat pada tingkat yang memadai untuk mendukung proses produksi. Langkah ini sekaligus menjadi mitigasi terhadap potensi kenaikan biaya logistik akibat meningkatnya harga minyak dunia.
Lebih lanjut Yehezkiel mengatakan saat ini kapasitas produksi Pupuk Indonesia Grup mencapai 14,8 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk. Khusus pupuk urea, kapasitas produksi perusahaan bahkan mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik.
Produksi urea nasional juga dinilai relatif mandiri karena bahan baku utamanya berupa gas bumi dapat dipenuhi dari pasokan domestik yang harga dan distribusinya diatur oleh pemerintah.
Dengan kondisi tersebut, menurutnya eskalasi konflik di Selat Hormuz sebagai jalur distribusi penting urea global tidak berdampak langsung terhadap pasokan urea nasional.
Bahkan Pupuk Indonesia menyatakan jika perusahaan itu merupakan produsen urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Dengan kapasitas produksi yang kuat tersebut, kami memiliki kemampuan untuk menjaga pasokan pupuk tetap optimal bagi petani Indonesia.
Baca juga: Pupuk Indonesia pastikan pupuk subsidi tersedia sebelum musim tanam
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































