Jakarta (ANTARA) - Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai peluang perkembangan ekspor beras Indonesia tetap terbuka, namun memerlukan peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi agar dapat bersaing di pasar internasional.
Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal mengatakan, rencana ekspor beras ke depan perlu dihitung secara lebih matang dengan mempertimbangkan kondisi produksi domestik serta dinamika pasar global.
“Kalau ini (mengembangkan ekspor beras) bisa dilakukan tentu saja bagus, cuma pemerintah menurut saya perlu mengkalkulasi lagi rencana ekspor ini, karena ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,” kata Faisal kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Ia menjelaskan, ekspor beras pada prinsipnya dapat dilakukan ketika pasokan dalam negeri mencukupi atau terjadi swasembada.
Baca juga: Bapanas pastikan beras ekspor ke Arab Saudi kantongi dokumen "HC"
Kondisi tersebut, menurut dia, sudah terjadi pada 2025 yang dipengaruhi peningkatan produksi serta adanya sisa impor dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun Faisal menilai daya saing harga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena Indonesia menghadapi persaingan dari negara eksportir besar seperti Thailand dan Kamboja.
“Kita (harga ekspor beras) masih di atas 1.000 dolar AS per ton, sementara Thailand, Kamboja itu di 600-an, 500-an dolar AS per ton. Nah, sehingga ada gap harga yang cukup jauh,” ujar dia.
Dengan kondisi tersebut, ia menilai ekspor beras Indonesia akan sulit bersaing apabila dilakukan melalui mekanisme perdagangan yang mengandalkan kompetisi harga secara langsung di pasar global.
Baca juga: Komisi IV DPR pacu ekspor beras RI ke negara selain Arab Saudi
Karena itu, menurut dia, peluang ekspor lebih realistis jika menyasar pasar tertentu melalui kerja sama khusus antarnegara.
“Kecuali dia sifatnya targeted, misalkan diekspor untuk memenuhi kebutuhan jamaah Indonesia saja. Jadi dalam konteks ini berarti ada kerja sama khusus dengan pemerintah Arab Saudi,” tuturnya.
Pemerintah melalui Perum Bulog sebelumnya telah mengekspor beras untuk kebutuhan jamaah haji Indonesia di Arab Saudi. Ekspor tersebut mencapai sekitar 2.280 ton dan dikirim dalam dua tahap mulai 28 Februari 2026 sebagai bagian dari dukungan logistik pangan bagi jamaah Indonesia di Tanah Suci.
Pemerintah juga menargetkan pengembangan pasar beras Indonesia di Arab Saudi melalui jaringan ritel modern setelah ekspor beras haji tersebut.
Baca juga: Kabapanas: Ekspor beras haji RI ke Arab implikasi positif swasembada
Beberapa jaringan ritel besar seperti Bin Dawood dan Lulu disebut telah menyatakan minat untuk menyerap beras Indonesia, sehingga membuka peluang perluasan pasar tidak hanya untuk kebutuhan haji tetapi juga segmen umrah dan ritel di negara tersebut.
Peneliti CORE Eliza Mardian menilai ekspor beras Indonesia ke Arab Saudi dapat diposisikan sebagai pasar khusus berbasis komunitas.
“Sebetulnya ekspor beras untuk kebutuhan jamaah haji di Arab Saudi itu ekspor captive market berbasis diaspora atau komunitas, bukan ekspor komersial murni,” kata Eliza.
Ia menjelaskan, permintaan beras tersebut lebih dipengaruhi preferensi rasa dan tekstur yang disukai jamaah Indonesia dibandingkan faktor daya saing harga di pasar global.
Baca juga: Pengamat: "Niche market" kunci ekspor beras RI ke Timur Tengah
Eliza menambahkan, Indonesia perlu memenuhi sejumlah prasyarat struktural jika ingin menjadi eksportir beras utama seperti Thailand atau Vietnam.
“Untuk bisa jadi eksportir beras utama seperti Thailand dan Vietnam kita harus memenuhi prasyarat struktural harus konsisten juga seperti surplus produksi yang stabil,” ucapnya.
Untuk mencapai hal tersebut, menurut dia, sektor pertanian perlu terus meningkatkan efisiensi produksi melalui modernisasi dan mekanisasi pertanian untuk bisa bersaing dari sisi harga di pasar global.
Selain itu, peningkatan kualitas produk melalui sertifikasi keamanan pangan dan penerapan praktik budidaya yang baik juga diperlukan untuk memenuhi standar pasar ekspor.
Baca juga: Pemerintah ekspor 2.280 ton beras untuk jamaah haji RI di Arab Saudi
“Kita juga harus bisa jaga konsistensi pasokan ke retail Timur Tengah, dan ini membutuhkan kontrak jangka panjang dengan volume stabil dan kualitas konsisten,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional pada 2025 tercatat sekitar 34,69 juta ton, meningkat sekitar 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya dari sekitar 60,21 juta ton gabah kering giling dengan luas panen sekitar 11,32 juta hektare.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































