China peringatkan bahaya penggunaan AI dalam serangan AS ke Iran

5 hours ago 2

Beijing (ANTARA) - Kementerian Pertahanan China memperingatkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) tanpa batasan untuk keperluan militer termasuk dalam serangan Amerika Serikat ke Iran.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan China Jiang Bin pada Rabu (11/3) mengingatkan bahayanya bila kecerdasan buatan digunakan sebagai alat untuk melanggar kedaulatan negara lain, memengaruhi keputusan perang, serta dalam menyerahkan kekuasaan hidup dan mati manusia kepada algoritma.

"Hal tersebut tidak hanya akan mengikis etika perang dan mekanisme tanggung jawab, tetapi juga dapat menyebabkan teknologi berada di luar kendali," katanya.

Militer Amerika Serikat telah mengonfirmasi penggunaan berbagai alat kecerdasan buatan (AI) dalam perang melawan Iran.

Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM) Brad Cooper pada Rabu (11/3) mengatakan AI membantu tentara AS memproses sejumlah besar data yang tadinya memakan waktu berhari-hari menjadi hitungan detik, meski ia menambahkan manusia selalu membuat keputusan akhir.

Konfirmasi tersebut muncul di tengah meningkatnya seruan untuk penyelidikan independen atas pemboman sebuah sekolah di Iran selatan yang menewaskan lebih dari 170 orang, sebagian besar anak-anak.

"Penggunaan Ai tanpa batasan untuk militer itu bahkan membuat adegan bencana dalam film Amerika 'Terminator' menjadi kenyataan," tambah Jiang Bin.

China, kata Jiang Bin, selalu berpegang pada prinsip "berorientasi pada manusia dan kecerdasan untuk kebaikan".

"Kami selalu berpendapat bahwa penerapan kecerdasan buatan dalam bidang militer harus tetap dipimpin oleh manusia. Kami menentang penggunaan keunggulan teknologi baru seperti kecerdasan buatan untuk mengejar hegemoni militer absolut serta merugikan kedaulatan dan keamanan teritorial negara lain," tegas Jiang Bin.

China, kata Jiang Bin, bersedia bekerja sama dengan semua negara di dunia untuk mendorong tata kelola multilateral kecerdasan buatan yang berpusat pada PBB, memperkuat pencegahan serta pengendalian risiko, dan memastikan bahwa perkembangan kecerdasan buatan selalu bergerak ke arah yang bermanfaat bagi kemajuan peradaban manusia.

Serangan AS-Israel telah menewaskan sedikitnya 1.300 orang di Iran sejak 28 Februari 2026. Organisasi Bulan Sabit Merah Iran mengatakan pada Rabu menyebut serangan AS-Israel telah merusak hampir 20.000 bangunan sipil dan 77 fasilitas perawatan kesehatan.

Satu laporan mengatakan AS menyerang 1.000 target dalam 24 jam pertama dengan menggunakan AI tercanggih yang pernah digunakan dalam ajang peperangan.

"Maven Smart System" yang dikembangkan perusahaan teknologi Palantir disebut menghasilkan informasi dari sejumlah besar data rahasia dari satelit, pengawasan, dan intelijen lainnya, membantu memberikan penargetan waktu nyata dan prioritas target untuk operasi militer di Iran.

Di dalam sistem cerdas tersebut ada alat AI Claude dari Anthropic. Penggabungan Maven dan Claude telah menciptakan alat yang mempercepat laju serangan, mengurangi kemampuan Iran untuk melakukan serangan balasan dan mengubah perencanaan pertempuran dari tadinya butuh waktu berminggu-minggu menjadi operasi waktu nyata.

Anthropic sendiri adalah perusahaan AI besar pertama yang bekerja dengan data rahasia. Claude disebut "telah banyak digunakan" di seluruh Departemen Pertahanan dan di lembaga keamanan lainnya, untuk menganalisis intelijen dan merencanakan operasi.

Namun saat ini Anthropic menggugat pemerintahan Trump setelah Washington memasukkan perusahaan tersebut ke dalam daftar hitam sebagai "risiko rantai pasokan" beberapa jam sebelum serangan ke Iran, yang secara praktis melarangnya melakukan bisnis langsung atau tidak langsung dengan lembaga pemerintah.

Pemerintahan Presiden Donald Trump juga terlibat dalam perseteruan publik dengan perusahaan AI asal AS Anthropic setelah perusahaan yang tadinya memiliki kontrak dengan Pentagon itu bersikeras agar model AI-nya tidak digunakan untuk senjata otonom penuh dan pengawasan massal.

Di militer Amerika, sistem ini memungkinkan satu unit artileri untuk melakukan pekerjaan 2.000 staf dengan tim yang hanya terdiri dari 20 orang,

Claude disebut juga telah digunakan dalam menanggulangi rencana teror dan dalam penangkapan presiden Venezuela Nicolás Maduro, tetapi serangan ke Iran adalah pertama kalinya alat tersebut digunakan dalam operasi perang besar.

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |