Beijing (ANTARA) - Pemerintah China meminta agar tidak ada pihak yang menganggu hubungannya dengan negara-negara di Amerika Latin.
"Kerja sama China–Amerika Latin tidak ditujukan untuk menganggu pihak ketiga, sehingga tidak semestinya juga diganggu oleh pihak ketiga," kata Menteri Luar Negeri China Wang Yi menjawab dalam konferensi pers soal "Kebijakan diplomasi dan hubungan luar negeri China" di Beijing, China pada Minggu.
Hal itu terkait dengan pertanyaan wartawan soal kondisi China di Amerika Latin pasca penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores oleh pasukan AS serta membawa mereka ke New York. Keduanya diadili pada Senin (5/1) atas dugaan keterlibatan dalam kejahatan terorisme narkoba dan konspirasi untuk mengimpor kokain serta dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi AS.
Pemerintahan Trump menggambarkan operasi itu sebagai bagian dari penegakan kembali Doktrin Monroe dan upaya memberantas dugaan perdagangan narkoba serta korupsi, sekaligus memperkuat pengaruh AS atas cadangan minyak besar Venezuela.
"Kami penuh keyakinan terhadap masa depan hubungan China-Amerika Latin. Apa pun perubahan situasi, Chinabersedia bersama negara-negara Amerika Latin dengan teguh mendorong pembangunan komunitas dengan masa depan bersama China–Amerika Latin agar kemitraan kerja sama komprehensif China-Amerika Latin dapat memberikan manfaat yang lebih baik bagi rakyat kedua pihak," tambah Wang Yi.
Wang Yi menyebut kerja sama China-Amerika Latin adalah saling membantu dan saling mendukung di antara negara-negara "Global South".
"Jika menengok kembali lebih dari setengah abad terakhir, alasan hubungan China-Amerika Latin berkembang pesat adalah karena China selalu menghormati rakyat Amerika Latin, dan selalu berhubungan secara setara serta saling menguntungkan dengan berbagai negara di Amerika Latin," tambah Wang Yi.
China, kata Wang Yi, tidak pernah melakukan gangguang geopolitik, tidak pernah mencampuri urusan dalam negeri negara lain, dan tidak pernah meminta siapa pun untuk memilih pihak tertentu.
Pada Pertemuan Tingkat Menteri Forum Kerja Sama China–Amerika Latin tahun lalu, China dan negara-negara Amerika Latin juga bersama-sama meluncurkan lima program besar di bidang persatuan, pembangunan, peradaban, perdamaian, dan hubungan antarmasyarakat, serta menggambarkan cetak biru China dan Amerika Latin untuk bersama-sama melangkah menuju modernisasi.
"Panggung internasional abad ke-21 seharusnya tidak lagi mementaskan lakon lama abad ke-19. Sumber daya Amerika Latin adalah milik rakyat Amerika Latin, jalan apa yang ditempuh negara-negara Amerika Latin harus dipilih sendiri oleh rakyat Amerika Latin, dan dengan siapa mereka berteman harus diputuskan sendiri oleh negara-negara Amerika Latin," tegas Wang Yi.
Selain Venezuela, Amerika Serikat juga membuat Panama keluar dari "Belt and Road Initiative" bentukan China.
Terlebih lagi Mahkamah Agung Panama pada 29 Januari 2026 memutuskan bahwa konsesi yang dipegang oleh anak perusahaan CK Hutchison Holdings Hong Kong untuk mengoperasikan Pelabuhan Balboa di Pantai Pasifik dan Cristóbal di sisi Atlantik Terusan Panama melanggar konstitusi.
Putusan pengadilan tersebut menyusul audit oleh pengawas keuangan Panama, yang menuduh adanya penyimpangan dalam perpanjangan konsesi selama 25 tahun yang diberikan pada tahun 2021.
Audit itu sendiri dilakukan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengambil alih Terusan Panama yang dibangun AS pada awal abad ke-20 dan dikembalikan kepada Panama pada 1999, karena menilai AS dikenakan biaya yang berlebihan untuk menggunakan terusan tersebut.
Terusan Panama menangani sekitar 40 persen lalu lintas kontainer AS dan 5 persen perdagangan dunia. Pembangunan kanal tersebut dibiayai oleh AS, yang mengoperasikannya selama seabad sebelum menyerahkan kendali kepada Panama pada tahun 1999.
Baca juga: China dukung negara-negara Amerika Latin, Karibia tegakkan kedaulatan
Baca juga: China sebut negara-negara Amerika Latin punya hak pilih mitra
Baca juga: China perluas akses bebas visa untuk lima negara Amerika Latin
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































