Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebutkan, pihaknya berkolaborasi bersama United States of Pharmacopeia (USP) guna meningkatkan standar mutu obat serta kapasitas sumber daya manusia, di mana MoU telah disepakati keduanya dan siap untuk ditandatangani.
Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebutkan bahwa terdapat banyak aspek yang dijajaki dalam kerja sama, antara lain membuat BPOM menjadi institusi yang dikenal secara global, memastikan kualitas produk pangan Indonesia, serta mendukung kemandirian obat nasional.
Taruna menambahkan, kerja sama antara BPOM dan USP dalam bentuk nota kesepahaman (MoU) berfokus pada peningkatan standar mutu obat dan kapasitas sumber daya manusia BPOM, khususnya di bidang adopsi standar/monografi obat dan peningkatan kapasitas pegawai BPOM, terutama di laboratorium.
Dia juga menyampaikan rencana untuk meningkatkan status Laboratorium Balai Besar POM (BBPOM) di Denpasar menjadi prakualifikasi WHO (PQ WHO) untuk memperkuat sistem penjaminan mutu obat.
"Adapun persiapan PQ WHO tersebut telah dimulai pada 2020 tanpa dukungan USP karena MoU BPOM dengan USP telah berakhir pada 2019 dan belum diperpanjang kembali," ujarnya.
Karena itu, dibutuhkan dukungan lebih lanjut agar proses ini dapat diselesaikan. Namun, katanya, dikarenakan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menutup United States Agency for International Development (USAID), yang biasanya mensponsori bantuan teknis, USP menjawab akan mencari solusi donor selain USAID.
Melalui kerja sama ini, Taruna juga berharap USP dapat memberikan dukungan teknis kepada BPOM yang tengah berjuang mendapatkan status WHO Listed Authority (WLA).
Taruna menjelaskan, BPOM telah berhasil menjadi Associate Member dari USP Convention pada tahun 2025 ini. Untuk itu, pihaknya diundang menghadiri USP Convention Meeting dan The Asia Pacific (APAC) Regional Chapter Meeting yang akan diselenggarakan di Rockville, Maryland, Amerika Serikat pada awal Mei 2025.
Baca juga: BPOM tingkatkan pengawasan pangan selama Ramadhan guna lindungi publik
Dalam keterangan yang sama, Senior Vice President of Strategy, Legal, and People USP Amanda Cowley menjelaskan akan ada 40–50 regulator dari seluruh dunia hadir di USP Convention Meeting. Dia menilai, acara itu adalah kesempatan yang bagus bagi BPOM untuk mendapatkan pengakuan global.
“Akan ada banyak momen diskusi dan interaksi terkait pengawasan obat dan produk biologi,” ujar Amanda.
Baca juga: BPOM jajaki peluang kerja sama dengan ARISE guna perkuat uji klinik RI
Pihaknya pun menyatakan akan mencoba mengeksplorasi lebih jauh tentang hal-hal yang dapat dikolaborasikan dengan BPOM.
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2025